my sense of imagination

ads1

Jumat, 07 Maret 2014

Oleh : Arif Riza Azizi

Kurang lazim untuk mendengar kata banjir bahasa. Dan mungkin hanya ada keheranan saat gendang telinga ini bergetar mendengar kata yang sungguh menggelitik. Aku tidak akan mencoba mendefinisikan pengertian banjir bahasa. Aku lebih ingin membebaskan pembaca, menjelajah akal pikirannya menerjemahkan pengertian banjir bahasa sesuai persepsi masing-masing. Yang pasti, sama halnya dengan dengan banjir air, banjir bahasa juga termasuk ke dalam wilayah negatif, dimulai dari sebab sampai akibatnya.

Mencoba menjadi seorang ahli riset “gadungan”, aku mencoba menelisik hal ihwal yang berperan menyampaikan debit air penyebab banjir, dan tanpa mengabaikan rasa hormat, instansi pendidikan menjadi pipa kecil berskala besar, yang terus –menerus mengepul volume air yang menggenangi permukaan pikiran kita. Apalagi saat kita berada di lingkungan kampus, debit air seakan selalu menjadi ombak besar. Mahasiswa yang lebih senang mempraktikkan yang namanya bahasa intelektual sebagai ciri khas manusia berpendidikan tinggi, yang tinggi tegak pula bahasa yang mereka gunakan.

Bahasa intelektual yang merupakan alih kebahasaan dari berbagai bahasa asing yang membanjiri kosa kata bahasa dalam negeri, seakan menjadi komoditas yang laris nan diminati oleh masyarakat kita sebagai bahasa pembentuk strata. Semakin bisa berkomunikasi dengan bahasa intelektual gengsi kita dibilang semakin tinggi, dan pandangan orang akan tentu berbeda sama sekali. Meniru istilah iklan pertelevisian, “mulutmu harimaumu”, menjadi bukti shahih bahwa ucapan seseorang menjadi suatu pembeda.

Lingkungan intelektual menyeret segala keadaan bangsa ini. Bahwa semua telah tererupsi oleh virus kebahasaan. Bibir kita seakan menjadi selang atau pipa-pipa yang ikut mengalirkan air, menambah defisit banjir dalam kebahasaan kita. Bukan masalah cuaca banjir kebahasaan bergelombang datang menggenangi bibir saat berucap. Aliran deras sungai bahasa meluap sewaktu-waktu, untuk saat in, dan tidak ada kemungkinan surut sebagian atau seluruhnya. Kita sendiri yang telah menutup drainase-drainase bahasa, sama seperti tidak adanya saluran drainase di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Bangunan-bangunan menjulang tinggi meratakan, memenuhi jumlah rataan daratan. Sehingga air mulai kebingungan mencari tempatnya menyatu bersama tanah persemayamannya.

Bagaimana lagi, mengatasi volume banjir bahasa yang sudah akut. Setiap saat banjir bahasa terus dipasok, berbalikan dengan waduk penampung bahasa yang semakin dangkal. Dasar waduk dangkal oleh tanah yang mengendus ke dasar waduk. Volume waduk menjadi semakin berkurang. Ditambah pengaruh dari pegunungan atau sejenis gundukan tanah bahasa, bahasa yang hidup asri dan asli di dalamnya ditebangi semena-mena, mengakibatkan tanah menjadi gundul. Samakan saja dengan kejadian longsor pergunungan yang dikarenakan penggundulan hutan. Tanah yang tinggi menjadi tidak berurat tanpa topangan akar dari tumbuh-tumbuhan. Saat ada hujan deras, dengan mudah gunung menjadi longsor. Longsor bahasa pun juga karena tidak adanya topangan dari pohon bahasa, saat datang bahasa impor membanjiri ketatabahasaan kita, bahasa asli yang cukup dan tenang mengisi dimana cekungan tempat bahasa tergenang, tertindih oleh bahasa impor yang membanjiri debit bahasa kita.

Banjir yang terus menggenangi, bersamaan hujan bahasa yang terus menghujani bumi bahasa, meluap masuk ke dalam rumah-rumah. Kita mencoba mencegahnya? Tidak. Kita mendiamkannya dan mengamalkannya setiap hari, waktu dan menit yang terlewati. Sejatinya, banjir yang menggenangi rumah akan menimbulkan kekotoran bahasa. Perlu dipel untuk membersihkannya, mungkin juga butuh deterjen pembersih untuk menghilangkan nodanya. Kalaupun hanya sebatas noda di baju atau di tubuh kita, mudah kita membersihkannya. Masalahnya kita berurusan dengan noda yang tidak kasat mata. Bagaimana mau menghilangkannya, kalau diibaratkan penyakit dia lebih ganas daripada kanker.

Kalian pembaca pun bisa menemukan bahasa impor dalam tulisan saya ini. Tanpa menafikkan diri, memang sangat sulit menghindari arus banjir bahasa dewasa ini. Aku menyadarinya setelah aku berada di tengah muara banjir bahasa, tergenang banjir bahasa, dan bagaimana aku harus mengentaskan diri, jika aku terlanjur basah. Tapi bukan berarti aku terus menerus berdiri bermandikan air di tengah muara bahasa ini, usaha untuk mengungsi selalu menjadi prioritas. Mengungsi dan kembali disaat banjir bahasa sudah reda dan surut.


Kamis, 06 Maret 2014

Oleh : Arif Riza Azizi

Banyak cara untuk mendapatkan ilmu atau sekedar mencari informasi sebagai lanjutan studinya atau hanya ingin mengetahui info terkini. Membaca adalah salah satu jalannya, sebagai media transfer pengetahuan. Peran kegiatan baca sangat penting ditengah-tengah gelombang arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mutakhir.
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang tertulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Dan perlu diketahui kegiatan membaca tidak melulu menimbulkan keseriusan, ada kalanya membaca dapat termasuk sebagai hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau cerita humor.
Seorang pelajar lazimnya memiliki kesadaran akan  pentingnya membaca, karena merekalah yang sangat memerlukan pengetahuan untuk menunjang dalam kegiatan belajar mengajar. Tetapi yang ada, mereka membaca lebih  karena terpaksa. Entah itu terpaksa karena demi mendapatkan nilai bagus ataupun tujuan lainnya. Inilah yang harus mereka rubah. Mereka harus menyadari bahwa membaca adalah membaca,  untuk mendapatkan informasi bukan karena mengejar nilai.
 Dalam konteks sekolah, pelajar membaca untuk tujuan-tujuan seperti  mendapatkan fakta atau gambaran keseluruhan tentang sesuatu tajuk atau perkara,  memahami sesuatu persoalan atau menjelaskan kefahaman tentang suatu konsep,  mengumpulkan berbagai pendapat berkaitan dengan sesuatu persoalan. Jadi membaca-nya mereka karena adanya keperluan dari luar diri, bukan karena kebutuhan diri mereka sendiri.
Seseorang yang rajin membaca sering disebut sebagai kutubuku, yang konotasinya selalu buruk. Seorang kutubuku dianggap kuper, pendiam, pemalu, asosial, dan selalu menutup diri dari dunia luar. Padahal kenyataanya tidak seperti itu. Mereka juga bisa berbaur dengan dunia luar. Tetapi yang menjadi prioritas mereka tetap membaca. Mereka berpikir daripada nongkrong-nongkrong tidak jelas  yang akan  menyita banyak waktu tanpa ada manfaatnya, lebih baik digunakan untuk membaca.
Bukan asumsi seperti itu yang harusnya mereka paham. Mereka harus memahami bahwa orang yang rajin membaca adalah mereka yang siap untuk menjadi orang sukses. Karena 95 persen orang sukses adalah mereka yang sering membaca, yang menjadi kutubuku.
Manfaat membaca
            Kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Melalui buku kita akan memperoleh banyak pengetahuan. Dan untuk mengetahui isi sebuah buku tentunya  kita perlu membacanya.
            Membaca juga bisa digunakan untuk mengisi waktu luang atau sebagai hiburan. Daripada kita berdiam diri, melamun, galau yang tidak ada gunanya, lebih bijak jika kita memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca. Seperti saat membaca komik, fiksi atau cerita humor,  yang sejenak mampu membuat kita melupakan masalah-masalah yang sedang dihadapi.
            Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata. Kata-kata yang telah kita baca akan tersimpan didalam memori otak kita. Dan tentunya semakin menambah perbendaharaan kata, terutama kata-kata intelek yang menggambarkan kita sebagai kaum terpelajar.
Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir kita. Semakin banyak buku yang kita baca, akan semakin memperbanyak informasi yang kita terima. Kita juga akan mampu membenturkan fakta yang  sebelumnya kita ketahui, dengan fakta terbaru yang kita peroleh. Dan secara tidak langsung, kita mampu mengumpulkan pecahan-pecahan informasi yang saling berkaitan.
Selain itu, dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksana dan kecerdasan tokoh-tokoh  hebat dunia.
Tradisi membaca juga membuat kita update dengan perkembangan yang ada disekitar kita. Contohnya dengan membaca koran atau surat kabar lainya yang menyajikan informasi terkini semua kejadian yang ada disekitar kita. Apalagi di era digital seperti sekarang, kita semakin dimudahkan memperoleh informasi lebih cepat dari seluruh pelosok dunia.
Manfaat yang terakhir adalah yang paling penting. Sebagai mahluk sosial kita tidak boleh menutup mata dengan perkembangan yang ada disekitar kita. Contohnya ketika terjadi bencana alam yang menimpa saudara kita, apalagi mereka dari daerah atau Negara yang sama. Kita akan tergerak untuk membantu mereka baik bantuan berupa materi maupun non-materi.
Tehnik membaca
Mungkin tidak banyak orang mengetahui tehnik-tehnik dalam membaca, serta manfaat apa yang akan mereka peroleh ketika kalian menerapkannya. Kalian akan cenderung mengabaikanya dan menganggap hal itu tidak terlalu penting.
Okelah!... kalian bisa mengabaikan tehnik-tehnik membaca begitu saja, asalkan jangan pernah mengabaikan kebiasaan untuk selalu membaca. Karena tehnik dalam membaca bukanlah satu-satunya penentu kita dapat memahami bacaan dengan mudah. Yang pling penting adalah kita selalu membiasakan membaca setiap hari.
Teknik membaca dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan dalam  membaca. mengukur kecepatan  membaca, latihan menempatkan secara tepat titik pandang mata, latihan memperluas jangkauan pandang mata. Dengan tehnik membaca, kita diarahkan untuk membaca secara efektif, dalam hal waktu maupun pemahaman.
Tehnik mambaca yang pertama adalah SQ3R, dikemukakan oleh Francis P. Robinson (seorang guru besar psikologidari Ohio State University), tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu survey (menyelidiki), question (pertanyaan), read (membaca), recite atau recall (mendaras), dan review (mengulang). Membaca dengan metode SQ3R ini sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional.
Yang kedua adalah skimming, merupakan tindakan untuk mengambil intisari atau saripati dari suatu hal. Oleh karena itu, skimming merupakan cara membaca hanya untuk mendapatkan ide pokok, yang dalam hal ini tidak selalu di awal paragraf, karena kadang ada di tengah, ataupun di akhir paragraf.
Skimming bisa disebut sebagai tehnik baca efektif, karena kita hanya menelusuri paragraf yang memuat ide pokok atau gagasan-gagasan penting. Jadi kita dapat melompati bagian-bagian, fakta-fakta, dan detail-detail yang tidak terlalu dibutuhkan, sehingga kita hanya memusatkan perhatian dan cepat menguasai ide pokoknya.
Tehnik baca yang ketiga adalah membaca-tatap (Scanning), adalah suatu teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain-lain, jadi langsung ke masalah yang dicari, yaitu fakta khusus dan informasi tertentu. kegiatan scanning lebih ditekankan untuk mencari informasi khusus. Karena itu kita perlu terlebih dahulu mengetahui apa yang akan kita cari.
Scanning sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk mencari: nomor telepon, arti kata pada kamus, entripada indeks, angka-angka statistik, acara siaran TV, dan melihat daftar perjalanan.
Tehnik baca yang keempat adalah baca-pilih (selecting), merupakan membaca bacaan atau bagian-bagian bacaan yang dianggap relevan atau mengandung informasi yang dibutuhkan pembaca. Jadi sebelum membaca, kita harus melakukan kegiatan seleksi bahan lebih dahulu. Contohnya memilih berita dalam koran untuk dibaca.
Tehnik baca yang terakhir atau yang kelima adalah baca-lompat (skipping), yakni bagian-bagian bacaan yang dianggap tidak relevan atau bagian yang sudah dikenal atau sudah dipahami diabaikan dan dilompati saja. Contohnya pada saat membaca daftar iklan baris.
Tingkat Baca Masyarakat Indonesia Jauh di Bawah Standar UNESCO
Minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.
            Sementara itu,The United Nations Development Programme (UNDP) merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5%, sedangkan Malaysia  mencapai 86,4%. (news.bisnis.com)
            Kenyataan ini semakin ironis karena anggaran untuk fungsi pendidikan sangat tinggi, yakni 20 persen dari APBN per tahun. Kenyataannya, Indonesia berada diurutan ke-60 untuk minat baca masyarakatnya dari 65 negara. (rumahpengetahuan.web.id)
Fakta tersebut membuat kita semua  prihatin. Seharusnya sebagai bangsa yang tengah giat membangun, membaca menjadi salah satu kunci penting untuk menjadikan roda pembangunan bisa berputar lebih cepat dan pesat.
Kepala Bidang Pengembangan Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia Nurcahyono seperti dikutip suaramerdeka.com menjelaskan, akibat rendahnya minat baca tersebut, pada tahun 2012 Indonesia nangkring di posisi 124 dari 187 Negara di dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan 'melek huruf'.
Salah satu faktor penentu mengapa minat baca masyarakat Indonesia rendah adalah karena kondisi ekonomi masyarakatnya. Kondisi ekonomi menyebabkan akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit, karena untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari sudah kesulitan, apalagi membeli koran, buku, atau bacaan lainnya.
            Budaya membaca harus dijadikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya membaca yang akan berdampak pada gemar membaca ini, bisa dijadikan upaya untuk menekan angka buta huruf.
Tantangan minat baca di Indonesia akan bertambah semakin berat, karena saat ini dunia sudah bergeser ke era digital. Seharusnya era digital lebih bisa memudahkan kita untuk membaca segala informasi dari seluruh pelosok dunia dengan cepat, mudah dan praktis. Tetapi faktanya berlainan, minat baca masyarakat Indonesia malah semakin rendah. Yang ada, mereka memanfaatkan era digital untuk melakukan plagiat atau copy-paste.
Era digital di Indonesia tampaknya terlalu dipaksakan. Akibatnya timbul budaya plagiat yang tidak hanya membuat masyarakat kita malas membaca tapi juga malas berkarya. Di Negara lain, era digital terjadi ketika masyarakatnya sudah gemar membaca. Sementara Indonesia memasuki era digital ketika minat bacanya masih rendah.           
Pemaksaan dalam membaca tidak melanggar HAM
Sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Masyarakatnya sejak dini terlatih dan terbiasa untuk membaca.
            Sebagai langkah awal membaca harus dipaksakan, agar itu dapat menjadi kebiasaan. Dan salah satu alasan kita kalah dengan negara tetangga di Asia, karena kita keterbatasan literasi dan keterbatasan kemampuan memaknai apa yang kita baca.
Kita lihat saja bagaimana Amerika Serikat  mewajibkan siswa SMA untuk membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul. Berbeda sekali dengan siswa SMA di Indonesia yang tidak memberlakukan kewajiban membaca.
Untuk UNESCO sendiri, telah menetapkan kewajiban bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk gemar membaca. Program UNESCO menetapkan 50 judul buku untuk dibaca persatu juta penduduk, sedangkan untuk negara maju, sedikitnya 500 judul buku untuk dibaca oleh persatu juta penduduknya.
Sebenarnya program wajib baca pernah diterapkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Misalnya, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya satra per tahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 26 karangan per tahun.
Tetapi, pemaksaan dalam membaca jangan pernah dianggap sebagai merampas HAM, membelenggu kebebasan mereka.  Justru, karena begitu pentingnya budaya membaca, maka diterapkan program wajib baca. Ini semata-mata demi kebaikan mereka sendiri, bukan untuk instansi atau lembaga yang menerapkan program wajib baca tersebut.
Melihat fakta sejarah bangsa Indonesia yang pernah menerapkan program wajib baca. Kenapa hal itu tidak pernah diterapkan lagi oleh pemerintah kita ?
Tetapi, jikalau nantinya program wajib baca diterapkan di Indonesia, tentu saja masih banyak kendala yang akan dihadapi. Karena rendahnya minat baca di kalangan siswa pun tidak terlepas dari persoalan perpustakaan sekolah yang tidak mencukupi dan memadai. Hal ini terlihat dari 110.000 sekolah yang ada di Indonesia, terindentifikasi hanya 18% yang mempunyai perpustakaan.
Dari 200.000 unit sekolah dasar di Indonesia, hanya 20.000 yang memiliki perpustakaan standar. Dari 70.000 SMP, hanya 36% yang memiliki perpustakaan standar, dan 54% SMA yang mempunyai perpustakaan standar.
24 ribu vs 240 juta
            Selain minat baca masyarakat Indonesia yang rendah, masih banyak lagi kendala mengapa budaya membaca Indonesia bisa dikatakan sangat minim. Dan salah satu kendalanya adalah jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia masih begitu rendah.
Menurut data yang saya peroleh, Indonesia hanya mampu menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Jadi, dalam setahun Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku.
Jika dikalkulasi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti untuk satu buku rata-rata dibaca oleh 3-4 orang. Padahal, berdasarkan standar UNESCO, idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. (rumahpengetahuan.web.id)
Sementara itu Fadli Zon, pemilik Fadli Zon Library,  menyebutkan saat ini rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang. Angka itu didapat dari sebanyak 165,7 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya memiliki terbitan buku 50 juta eksemplar per tahun. Dari 64.000 desa yang ada di Indonesia, ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%. (news.bisnis.com)
Hal itu tampaknya memang wajar terjadi, karena membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling berhubungan. Jika Negara yang minat bacanya rendah pasti berdampak pada jumlah terbitan buku yang rendah pula. Orang memiliki kemauan menulis karena dia sering membaca dan menganggap membaca dapat menginspirasi mereka untuk tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen, yang juga giat menulis.
Membiasakan membaca sejak dini
            Sekarang, semakin banyak pegiat sosial menyadari akan pentingnya membaca. Tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tapi mereka berusaha menularkan budaya membaca kepada orang-orang disekelilingnya. Dan berharap mereka juga akan membiasakan diri untuk membaca.
            Mereka, sesama pegiat dan penggerak sosial membentuk aliansi, bersatu untuk menumbuhkan budaya membaca dikalangan masyarakat. Contohnya, melalui Rumah Pintar yang dibentuk Yayasan Tunggadewi dan Yayasan Satoe Indonesia yang mereka dirikan, berupaya mengembangkan minat baca masyarakat yang sudah mulai hilang. Yayasan ini menyediakan buku-buku untuk dibaca khalayak ramai secara gratis tanpa biaya.
Rumah Pintar terbentuk dalam pendidikan lintas masyarakat untuk multi usia, mulai dari anak usia dini sampai dewasa. Hal itu dimaksudkan bahwa pembelajaran itu tak mengenal batasan usia. Dan bagi mereka yang sudah tua tidak perlu malu untuk membaca. Karena, mayoritas mereka yang usianya sudah tua merasa malu, dan berpikiran membaca tidak ada manfaatnya.
            Peran serta seseorang sebagai anggota rumah pintar, akan menciptakan masyarakat yang memiliki pengetahuan. Dampaknya akan menghasilkan warga yang sejahtera. Diharapkan minat membaca juga semakin tinggi.
            Selain melalui yayasan-yayasan yang terstruktur, masih banyak upaya yang dilakukan oleh pegiat sosial untuk membudayakan membaca. Tetapi, tetap saja cara yang paling efektif menumbuhkan budaya membaca dimulai sedari kecil. Mereka yang dari kecil sudah dibiasakan untuk selalu membaca, tentu akan membawa kebiasaan itu sampai dia dewasa.
            Sekarang yang patut dipertanyakan adalah peran pemerintah. Bagaimana pemerintah melalui Mendikbud mencari solusi untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia yang sudah kronis ? Mereka pasti sudah mengerti masalah ini, tetapi mereka tidak mampu atau mungkin tidak mau perduli pada permasalahan ini. Atau bisa jadi kompetensi pendidikan yang diterapkan di Indonesia kurang tepat dan sama sekali tidak efektif  untuk menunjang minat baca siswa? Dan bagaimana anda menyikapi keadaan ini?

            

Minggu, 16 Februari 2014

Oleh : Arif Riza

Hari minggu, para petani tetap giat mencangkuli sawahnya. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lainya. Memaknai hari minggu sebagai hari giat bertani. Menggantikan kesenangan libur keluarga dengan cangkul atau sabitnya. Dia rela menduakan keluarga dan lebih setia bercengkerama dengan sawahnya.
                Kegiatan bertani sangat didukung dengan kondisi alam Indonesia. Dalam lirik lagu koesplus tanah Indonesia dianggap sebagai tanah surga, dalam bahasa jawa disebut Loh Jinawi, sebagai representasi  keadaan alam surga yang hijau dan asri. Beribu-ribu jenis flora tumbuh subur di belantara Indonesia. Bahkan kayu saja dapat hidup dan tumbuh subur di tanah Indonesia ini.
                Mereka  menganggap, bertani bukanlah sekedar masalah ekonomi,  tapi lebih dari itu. Bertani dianggap sebagai warisan budaya.  Kegiatan bertani juga dianggap sebagai  meneruskan warisan budaya. Selain lahan dari warisan orang tuanya, mereka bertani karena mewarisinya sejak jaman kerajaan.  Jadi mereka tetap berpegang teguh pada mata pencaharian nenek moyang mereka  yang seorang petani, meskipun ada nyanyian yang bilang nenek moyangku seorang pelaut.
                Bertani juga memiliki sisi-sisi yang magis, yang masih dipegang kebudayaan jawa sampai saat ini. Tidak hanya sekedar kegiatan bercocok tanam. Lebih dari itu, dalam buku Dasar-Dasar Usaha Tani di Indonesia (1984), disebutkan hasil bercocok tanam juga dapat memperlihatkan kekuatan, sulit dihancurkan, atau mempunyai sifat-sifat luar biasa. Bahkan hasil-hasil cocok tanam seringkali dipakai sebagai lambang-lambang  seperti;  kelapa, padi, kapas dan lain sebagainya.
 Jika tetap berpegang bahwa  bertani sebagai nilai ekonom, tentu mereka sangat keliru memilih bertani untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Harga-harga sudah dimonopoli sedemikian rupa oleh instansi terkait. Sehingga tidak memungkinkan lagi bergelantungan pada hasil panenan mereka. Lha kok mereka tetap berjudi mematenkan pertanian sebagai pekerjaan vital.
                Di perkotaan besar semakin jarang kita menemukan lahan-lahan untuk bercocok tanam. Hektaran lahan yang dulunya ditumbuhi padi sekarang berjejalan,  tumbuh apartemen  menjulang tinggi. Dalam The Principle of Political Economy and Taxation (1921), David Ricardo mengkaitkan proses produksi dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Permintaan terhadap sumber daya produksi meningkat sedemikian rupa, agar manusia dapat mempertahankan kehidupan. Untuk itu, semakin banyak tanah diperlukan. Selain sebagai hunian, lahan-lahan tersebut juga dialihfungsikan menjadi lahan industri. Data yang dikemukakan Kompas (13 Juli 1995) menyebutkan sekitar 900.000Ha tanah pertanian di Pulau Jawa telah dikonversi menjadi lahan non-pertanian.
                Tidak hanya menyangkut masalah teknis saja. Kendala bertani sudah menjalar pada hal yang sifatnya non teknis. Sekarang dunia pertanian sudah dimasuki oleh mereka para kaum kapitalis. Mereka menggunakan uang dan kekuasaanya untuk merebut tanah milik petani kecil. Padahal dalam konteks agraria sector tanah menempati posisi yang vital. Tanah mereka ubah dari alat subsistensi rakyat menjadi alat produksi bagi organisasi produksi kapitalis.
                Dalam bukuPetani dan Penguasa (1999), mencatat sejumlah kasus tanah yang berkembang dalam tahun 1980-an menunjukkan penggunaan mekanisme manipulasi dan kekerasan. Bentuk manipulasi diantaranya: klaim telah berdasar musyawarah, menyuap pimpinan dari para petani/penduduk, pemalsuan tanda-tangan, pencapan(labeling/stigmatisasi)PKI-Mbalelo-Anti Pembangunan terhadap petani/penduduk, dan lain-lain. sedangkan yang berbentuk kekerasan berupa: intimidasi, terror, penyiksaan, penggunaan mekanisme hokum acara pidana,pembakaran hingga penggunaan senjata yang mengakibatkan korban.
                Lebih lanjut dalam buku yang sama dituliskan, ekspresi konflik demikian menunjukkan bahwa dimensi sengketa tanah sudah tidak hanya bisa dipahami sebagai sengketa tanah saja. Sengketa tanah adalah suatu puncak gunung dari sengketa-sengketa lain yang juga mendasar. Sengketa tersebut antara lain: sengketa antar system, sengketa antar mayoritas-minoritas, sengketa antar warga Negara melawan Negara, dan sengketa antar sistem ekologi.
                Memang serba sulit kehidupan para petani sekarang ini. Mereka harus dibenturkan dengan berbagai permasalahan yang mereka sendiri belum pernah menelaah yang demikian. Apalagi mereka, petani  yang masih tradisional, bercocok tanam dengan berpegang pada warisan orang-orang sebelumnya. Pemikiran mereka masih sangat dangkal dan dengan mudah dapat dimanfaatkan oleh mereka kaum kapital.
                Memang masalah petani di Indonesia begitu rumit sampai menjulur pada hal-hal yang sistemis. Tapi bagi mereka petani yang tetap melestarikannya sebagai sebuah kegiatan atau profesi, tentu keadaan akhir-akhir ini membawa angin segar tersendiri. Nasib petani sudah mulai diperhatikan keberlangsunganya. Mereka dianggap memiliki nilai multifungsi. Bertani sekarang tidak hanya dimiliki oleh petani saja. Lebih dari itu bertani sekarang dapat dinikmati oleh semua orang.
Mengapa saya katakan bertani sekarang dapat dinikmati semua orang. Karena  diera global warming, tanaman mereka dapat digunakan sebagai penghijauan. Tanaman itu digunakan sebagai pengganti hutan-hutan yang gundul karena penebangan-penebangan liar. Meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan tapi paling tidak itu sebagai sumbangsih petani pada alam raya.
Nilai yang kedua adalah, bertani sekarang digunakan sebagai media rekreasi. Itulah yang sekarang dikembangkan oleh banyak pihak. Target mereka adalah orang-orang perkotaan. Mereka yang keseharianya didisi dengan kesibukan di kantor, sekolah, atau tempat kerja lainnya. Dengan berekreasi di lahan pertanian mereka dikenalkan pada proses bercocok tanam yang rumit dan berkelanjutan. Dengan tujuan itu mereka nantinya diberi pengetahuan bagaimana proses bercocok tanam, yang tidak akan mereka dapatkan di instansi pendidikan manapun. Selain itu, hal itu dilakukan untuk menciptakan nilai apresiasi bagi jasa petani yang telah berjasa menghasilkan nasi, sayuran, dan hasil-hasil lainnya untuk mereka santap setiap hari.
               

                
Oleh : Arif Riza Azizi

            Perpustakaan, sekarang harusnya menjadi tempat yang lebih akrab pada ku, kepada kehidupan keseharianku. Kini aku merasa dalam diri ku timbul secerca semangat untuk membaca-membaca dan terus membaca. Dan perpustakaan saya anggap sebagai pemuas nafsu ku saat ini, kala aku belum punya buku sendiri atau aku belum bisa menemukan sarana lain pengganti perpustakaan. Saya punya keinginan untuk masuk perpustakaan setiap kali sehari. Untuk mengelus satu per satu halaman, menatapnya penuh mesra, mencurahkan semua pikiran pada dia seorang. Dan sejauh ini, itulah pemahaman saya tentang perpustakaan. Perpustakaan bagi ku hanya sebagai sarana pasif, yang hanya menyediakan buku-buku berak-rak  jumlahnya. Inilah ironi mencengangkan yang saya hadapi, dan saya menduga hal ini juga terjadi pada kalian juga.
            Menggali Pustaka Candi, yang diadakan di UII Yogyakarta, 11 Februari 2014. Menambah informasi saya tentang perpustakaan. Seminar yang menuturkan berbagai macam kepustakaan berdasarkan berbagai perspektif, berdasarkan profesi ke tiga narasumber yang dihadirkan. Perpustakaan dalam perspektif seorang penulis, seniman dan dosen.
            Namun saya lebih tertarik mencatat apa yang  disampaikan oleh Elisabeth. Perpustakaan dipandang Elisabeth, seorang penulis yang menjadi narasumber di seminar tersebut, menjadi tiga macam bentuk, yang bisa disebut penggolongan berdasarkan zaman peradaban. Yang pertama, perpustakaan dipandang sebagai bentuk akal budi manusia yang tersimpan di memori pengingatnya. Pengertian ini didasarkan pada kondisi peradaban nguping,yang belum ada perwujudan suara menjadi tulisan. Jadi, informasi-informasi yang mereka peroleh dari hasil mengamati maupun mewawancarai narasumber, akan mereka tata ke dalam memori ingatannya.
            Yang ke dua, perpustakaan berbentuk batu, lontar, kulit, daun ataupun kertas. Hasil perwujudan dari pengetahuan mereka akan dituliskan pada sarana-sarana tersebut. Mereka mencoba mengabadikan pengetahuannya, karena kesadaran akan kefanaan dunia ini. Dan karena hal itu juga, dirasa daya ingatan mereka tidak akan sepeka saat mereka menggunakan akal budi manusia sebagai sarana perpustakaan.
            Yang ke tiga, dan “mungkin belum ada pengakuan atas gagasan ini”, kelakar Elisabeth, bahwa perpustakaan kini dimediasi oleh berkembangnya dunia maya. Tetapi yang menarik adalah keyakinan dari Elisabeth akan kembalinya perpustakaan dari dunia maya kembali pada daya ingat akal budi manusia. Berarti perwujudan dari perpustakaan akan membentuk siklus, dari era dunia maya yang menjadi pangkal akan kembali ke awal berbentuk akal budi manusia. Hal ini dirasa sebuah desakan yang harus diwujudkan. Karena dunia maya telah menimbulkan efek kafein yang sudah tentu berlebihan. Mereka akan selalu dan terus menerus bergantung pada teknologi yang memang instan, cepat dan mudah untuk menemukan jawaban masalah yang kita hadapi. Tapi hal itu berdampak pada menurunnya daya ingat kita, yang semakin jarang kita gunakan.
            Tidak banyak yang saya ketahui hal tentang perpustakaan. Sejarah dari perpustakaan saya ketahui saat mempelajari masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khotob. Tetapi saat itu sebenarnya bukan perpustakaan yang sebenarnya. Yang saya maksud adalah perpustakaan yang berbentuk satu ruangan khusus untuk menyimpan buku. Di masa itu perpustakaan masih berada di masjid-masjid, di dalam ruangan tersendiri. Masjid kala itu bisa dibilang sebagai sarana multifungsi. Selain ada perpustakaan di sana juga dilangsungkan proses belajar mengajar, yang dulunya dikenal dengan pembelajaran secara shorogan. Yaitu, setelah mempelajari buku-buku yang ada kemudian mereka akan beridiskusikanya dengan seorang tutor perpustakaan. Dan proses itulah yang dulunya menjadi proses belajar mengajar satu-satunya, karena belum adanya universitas.
            Selain masjid yang digunakan sebagai sarana multifungsi, ternyata gereja juga dimanfaatkan sedemikian rupa untuk tempat menyimpan buku-buku. Di bantul, seorang shul mulder menjadikan gereja sebagai tempatnya menyimpan buku-buku. Dia setiap saat berada di gereja itu, untuk mempelajari buku-buku yang ada di sana.

            Entahlah, sejarah perpustakaan yang seperti ini belumlah cukup untuk menggambarkan bagaimana perpustakaan itu sebenarnya. Perpustakaan saat itu bisa dibilang masih nimbrung, ke masjid-masjid atau gereja-gereja, yang sebenarnya adalah tempat untuk sembahyang untuk saat ini. Tapi saya kira menggunakan masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya sebagai sarana multifungsi menjadi hal yang tepat. Karena tempat-tempat itu bukan hanya melulu menjadi tempat beribadah, tetpai harus ada kegiatan lain yang tentunya bermanfaat, seperti digunakan untuk perpustakaan.
Oleh : Arif Riza
Banjir bahasa, tentu menjadi sebuah inovasi, pembaruan dalam daftar ketatabahasaan kita. Betapa tidak, semua orang yang sekarang masih hidup atau mereka yang sudah mati, menganggap banjir identik dengan air. Mereka berpegangan pada satu kaidah pengertian bahasa yang linier.
                Pada hakikatnya, pengertian banjir dapat ditelikungkan ke dalam macam-macam bentuk. Dan tergantung pada kata apa yang mengiringi kata banjir.  Salah satu contohnya ketika banjir ditambah dengan bahasa, yang akan timbul satu kalimat baru berupa “banjir bahasa”.
                Pengertian banjir selalu menimbulkan pemikiran yang negatif. Begitu juga jika kita mengartikan banjir bahasa. Banjir bahasa sebagai sebuah bencana yang mengakibatkan sebuah bahasa pokok tergerus oleh berbagai macam bahasa yang sedang tren dimasyarakat.
                Tanpa kita sadari, kitalah yang berperan pada keadaan ini, bencana banjir bahasa. Kita menebangi pohon-pohon bahasa, menghancurkan drainase bahasa, membuang sampah bahasa sembarangan, tidak memperbaiki sistem irigasi bahasa. Dan tanpa kita sadari, kita telah hanyut terbawa oleh arus banjir bahasa tersebut.
                Posisi kita sekarang hanyalah menjadi konsumen absolut. Kita hanya mencerna bahasa yang akhirnya menumpuk dan membusuk di dalam memori otak. Kita belum mampu untuk memproduksi bahasa sendiri, atau paling tidak menyaring masuknya banjir bahasa ke dalam diri kita.
                Kalau kita sudah tahu memori kita sudah penuh, lober dengan banyaknya bahasa yang bersemayam dalam otak kita. Kita tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Ibarat orang kaya, mesti dia memiliki kewajiban untuk bersedekah, membayar zakat, atau beramal pada mereka yang kekurangan. Begitu juga dengan tumpukan bahasa di otak kita, yang seakan menggenangi memori otak, maka kita harus mensedekahkannya pada orang lain. Kita jangan menjadi seorang yang kikir bahasa.
                Tapi ada kemungkinan juga kalau kita itu fakir bahasa. Memang benar kita mengonsumsi beribu-ribu bahasa setiap hari, tapi entah bagaimana caranya, bahasa itu menghilang begitu saja. Bahasa masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Kita cenderung menjadi orang yang apatis, yang tidak mau peduli pada apa yang sebenarnya terjadi disekitar kita.

Banjir bahasa menjangkit di mana-mana
                Jika kita membenturkan banjir bahasa dengan dunia politik di Indonesia, yang sedang marak-maraknya aksi kampanye para politikus, tentu masih ada keterkaitannya. Politikuslah yang menjejali kita dengan slogan-slogan persuasif, yang hanya mementingkan tujuan mereka demi kesuksesan pemilu.
                Ada juga peran para tokoh agama, seperti para da’i yang mengatasnamakan syiar agama, ikut menciptakan arus banjir bahasa. Seperti da’i-da’i di televisi yang menciptakan bahasa sendiri, yang baru dan alay. Tujuan mereka hanya ingin dia diminati oleh masyarakat luas tanpa memandang akibat baik dan buruknya.
Dan fakta menariknya, dari bidang apapun itu, ada semacam pendistribusian bahasa secara terus menerus kepada kita para konsumen, yang kita tak kuasa menentang arus tersebut. Kita terus menerus tererupsi oleh arus bahasa, tanpa pernah dapat bangkit dan menepi dari arus tersebut.

Alai arus banjir yang berbahaya
                Jika kita sering menonton televisi, tentu kita akan sering mendengar bahasa-bahasa yang aneh dan terbaru. Bahasa tersebut yang akhirnya mampu menginfeksi para penonton setia televisi. Mereka akan beradaptasi, mengikuti tren bahasa yang diciptakan diacara-acara pertelevisian.
                Terutama arus itu akan semakin deras, jika yang mengucapkannya adalah para artis-artis terkenal, yang menjadi idola kita. Entah itu dari artis komedian, artis perfilm-an, maupun para tokoh politik yang sering dimunculkan sebagai promosi menjelang pemilu.
                Untuk para politikus, merekalah subjek yang paling pintar memanfaatkan situasi yang dialami oleh masyarakat pada umumnya. Mereka pandai menganalisis kemampuan masyarakat yang akan mereka jadikan korban arus banjir bahasa yang mereka ciptakan.

Atur jarak dan posisi
                Lalu bagaimana kita mengkondisikan keadaan untuk menentang arus tersebut, atau paling tidak mengungsi dari arus banjir bahasa? Jujur saja, hal itu sangatlah sulit. Karena yang terjadi pada umumnya, kita yang beradaptasi, menyesuaikan diri dengan munculnya bahasa-bahasa baru yang sedang nge-tren.
Mana mungkin ada bencana malah kita bahagia. Kita jangan mau mengikuti budaya masyarakat yang telah terbawa oleh arus banjir bahasa. Tidak usah memperdulikan perkataan mereka yang bilang kalau kita kuper lah, gak gaul lah. Mereka itulah yang bersenang-senang di atas penderitaan sendiri. Mereka yang malah berselancar, atau berenang di tengah-tengah bencana banjir tersebut.
                Lebih baiknya kita menyingkir dari arus banjir bahasa tersebut. Karena kita belum tentu mampu untuk melawan arus besar yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan kita. Kita harus mengatur jarak aman, sehingga kita dengan tenang berdiri sendiri di tempat kering yang jauh dari banjir bahasa.

Sendiri dan terisolasi
                Kita bisa saja menghindar dari arus banjir bahasa. Tapi akibat yang ditimbulkannya, kita akan masuk ke dalam hutan rimba yang tidak berepenghuni. Yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian manusia. Tanpa kita sadari, kita telah berjalan berlainan arah dengan mereka yang telah terbawa oleh arus banjir bahasa. Bahkan kita hanya bisa berpapasan dengan mereka, para sahabat  yang kita kenal akrab.
                Inilah sisi lain yang tentunya akan membuat kita binggung menentukan pilihan. Kita akan dicap manusia aneh, yang tidak sama dengan masyarakat pada umumnya. Bahkan yang paling buruk kita dianggap sebagai manusia asosial, yang tidak mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
                Jika kita berani melawan arus banjir bahasa, kita akan akan diganjar dengan predikat manusia langka di bumi ini. Kita akan menjadi bagian kecil manusia yang mampu menggentaskan diri dari banjir tersebut. Yang lebih hebat lagi, kita mampu membawa teman kita sadar untuk menepi, dan menjauh dari derasnya arus tersebut. Kita tidak boleh terbebas sendirian, tetapi kita juga harus menolong mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Jika kita tidak berusaha menolong mereka terbebas dari situasi tersebut, itulah yang dinamakan tindak asosial yang sebenarnya.
               



Minggu, 15 Desember 2013

Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban manusia, karena pada waktu terjadi perubahan pola piker manusia dari mitologi menjadi rasional. Pola piker mitologi merupakan pola piker masyarakat yang masih sangat mengandalkan mitos atau lebih percaya pada hal-hal yang tabu.
Zaman Yunani kuno merupakan zaman keemasan filsafat. Karena pada masa ini manusia bebas dalam mengeluarkan ide-ide dan pendapat mereka dan menjadikan mereka mampu berpikir secara kritis. Pada zaman Yunani kuno tokoh filsafatnya dikenal dengan nama filsuf. Banyak sekali filsuf-filsuf dari zaman Yunani kuno, hingga modern. Di dalam makalah ini membahas salah satu filsuf dari zaman Yunani kuno yang bernama Plato (429-347 SM), yang sekaligus merupakan murid dari Socrates.


BIOGRAFI TOKOH
Plato merupakan salah satu filsuf yang terlahir di Atena pada tahun427 SM, dan meninggal pada tahun 347 SMdi Atena pula pada usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga aritokrasi yang turun temurun memegang politik penting dalam politik Atena. Ia bercita-cita menjadi orang Negara, tapi perkembangan politik dimasanya tidak memberi kesempatan padanya untuk mengikuti jan hidup yang diinginkannya itu.
Namanya bermula Aristokles, Plato merupakan nama pemberian gurunya. Ia memperoleh nama itu karena bahunya yang lebar sepadan dengan badannya yang tinggi dan tegap raut mukanya, potongan tubuhnya serta parasnya yang elok. Pelajaran yang diperolehnya dimasa kecil, selain pelajaran umum adalah menggambar dan melukis disambung dengan belajar musik dan puisi. Sebalum dia dewasa dia sudah pandai membuat karangan yang bersajak. Dimasa itu Plato mendapat didikan dari guru-guru filosofi, pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya adalah murid Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu” seperti air. Sejak umur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Sokrates dan pelajaran itulah yang memberikan kepuasan baginya.
Pengaruh Sokrates makin hari makin mendalam padanya, ia menjadi murid Sokrates yang setia sampai pada akhir hidupnya Sokrates tetap menjadi pujaannya. Dalam segala karangannya yang berbentuk dialog, bersoal jawab. Sokrates kedudukannya sebagai pujangga yang menuntun, dengan cara begitu ajaran Plato tergambar keluar melalui mulut Sokrates. Setelah pandangan filosofinya sudah jauh menyimpang dan sudah lebih lanjut dari pandangan gurunya. Sokrates digambarkannya sebagai guru bahasa isi hati riwayat di Atena yang tertindas karena kekuasaan yang saling berganti. Kekuasaan demokrasi yang meluap menjadi anarki dan sewenang-wenang digantikan berturut-turut oleh kekuasaan seorang tiran dan oligarki, yang akhirnya membawa Atena lenyap ke bawah kekuasaan asing.
Plato mempunyai kedudukan yang istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu seni filosofi. Pandangan yang mendalam dan abstrak sekalipun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof sebelumnya dapat menandinginya dalam hal ini. Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim meminum racun, besar sekali pengaruhnya atas pandangan hidup Plato Sokrates dimatanya adalah seorang yang jujur dan adil orang yang tak pernah salah.
Tidak lama setelah Sokrates meninggal, Plato pergi dari Atena, itulah permulaan ia mengembara 12 tahun lamanya dari tahun 399 SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan filosofinya. Ada cerita yang mengatakan bahwa ia mengarang beberapa dialog yang mengenai berbagai macam pengertian dalam masalah hidupberdasarkan ajaran Sokrates. Dari Megara ia pergi ke Kyrena, dimana ia memperdalampengetahuannya tentang matematik pada seorang guru yang bernama Theodoros, disana ia juga mengarang buku-buku dan mengajarkan filosofi. Kemudian ia pergi ke Italia Selatan dan terus ke Sirakusa di pulau Sisiria yang pada wkatu itu diperintah oleh seorang tiran yang bernama Dionysios yang mengajak Plato tinggal di istananya. Disitu Plato kenal dengan ipar raja Dionysios yang masih muda bernama Dion yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Mereka berdua sepakat mempengaruhi Dionysisos dengan ajaran filosofinya agar kehidupan sosialnya menjadi lebih baik. Tetapi ajaran Plato membuat Dionysios menjadi jemu. Pada tahun 367 SM setelah Plato 20 tahun menetap dalam Akademia, diterimanya undangan dari Dion untuk dating ke Sirakusa, setelah Dionysios meninggal maka digantikanoleh Dion dengan nama dionysios II dan berharap Plato dapat mengajarkan kepada yang masih muda itu “pandangan filosofi tentang kewajiban pemerintah menurut pendapat Plato” akhirnya Plato berangkat ke Sirakusa dan disambut oleh raja dengan gembira, tetapi bagi raja itu filosofi itu tidak menarik akhirnya intrigue, fitnah dan hasutan merajalela dalam istana itu. Akhirnya Dion dibenci oleh raja dan dibuang ke Sisilia. Kemudian Plato kembali ke Atena, tapi 6 tahun kemudian pada tahun 361 SM plato ketiga klainya dating ke Sirakusa, raja Dionysios II dengan Dion berusaha agar Plato kemabali ke Sirakusa, tapi maksudnya tidak berhasil dan harapannya untuk mencoba sekali lahi melaksanakan cita-citanya tentang pemerintahan yang baik dalam politik gagal sama sekali.
Akhirnya Plato kembali ke Atena dan memusatkan pada Akademia sebagai guru dan pengarang. Plato tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Pemikiran yang dicetuskan Plato: intisari dari filosofi plato ialah pendapatnya tentang idea itu adalah suatu ajara yang sulit pemahamannya. Salah satu sebab ialah bahwa pahamannya tentang idea selalu berkembang, bermula idea itu dikemukakan sebagai teori logika, kemudian meluas menjadi pandangan hidup,menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik social mencakup pandangan agama. Plato memisahkan kenyataan yang kelihatan dalam alam yang lahir dimana berlaku pandangan Herakleitos dan alam pengertian yang abstrak dimana berlaku pandangan Parmenides. Dalam bidang yang pertama yang ada hanya kiraan, sebab kalau semuanya mengalir tidak berhenti-henti, tiap barang bagi setiap orang pada setiap waktu hanya berupa seperti yang terbayang dimukanya maka manusia menjadi ukuran segalanya seperti dikatakan oleh Protagoras. Tetapi pengetahuan dapat memberikan apa yang tetap adanya yaitu idea. Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak, ia timbul semata-mata karena kecerdasan berpikir pengertian yang dicari dengan pikiran adalah idea. Idea pada hakikatnya sudah ada, tinggal mencarinya sja. Pokok tinjauan filosofi Plato adala mencari pengetahuan tentang pengetahuan, ia bertolak dari ajaran gurunya Sokrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagi dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung didalamnya pengetahuan dan budi yang dicarinya bersama-sama dengan Sokrates, pada hakekatnya berlainan sama sekali dari pandangannya, sifatnya tidak diperoleh dari pengalaman. Pemandangan hanya alas an untuk menuju pengertian, ia diperoleh atas usaha akal sendiri.
Idea menurut paham Plato tidak saja pengertian jenis, tetapi juga bentuk dari kedaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu suatu pikiran melainkan suatu realita. Pendapat Parmenides tentang adanya yang satu kekal, dan tidak berubah-ubah, tapi yang baru dalam ajaran Plato ialah pendapatnya tentang suatu dunia yang tidak bertubuh. Filosof grik sebelumnya dia tidak genal gambaran dunia semacam itu , juga adanya dalam pikiran Parmenides yang mengisi sepenuh-penuhnya, sehingga tidak ada lagi tempat yang kosong. Dunia yang bertubuh adalah dunia yang dapat diketahui dengan pandangan dan pengalaman. Semua itu bergerak dan berubah senantiasa tidak ada yang tetap dan kekal. Dari pandangan dan pengalaman saja tidak akan pernah tercapai pengetahuan pengertian.
Berhadapan dengan itu terdapat dunia yang tidak berubah daripada idea, yang lebih tinggi tingkatnya dan yang menjadi objek dari pengetahuan pengertian apabila pengertian yang dituju itu memperoleh bentuknya yang tepat, ia tidak berubah-ubah lagi dan berrtempat didalam dunia idea. Idea itulah yang melahirkan pengetahuan yang sebenarnya.
Dalam konsepsi Plato dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh terpisah sama sekali, tetapi dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Menurut Plato pengertian yang sebanyak itu menunjukkan banyaknya jenis idea, idea yang tertinggi ialah kebaikan, sebagai tuhan yang memebentuk dunia. Plato menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan adalah pokok, karena dunia idea tersusun menurut system teleology.
Etik Plato: pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi ada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan diteruskannya ke dalam praktik hidup, oleh karena itu kemauan seseorang bergantung kepada pendapatnya, nilai kemauannya itu ditentukan pula oleh pendapat itu. Jadinya menurut Plato ada 2 macam budi, pertama budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian. Kedua, budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak. Pandangan Plato tentang Negara dan luasnya masih terpaut pada masanya, ia lebih memandang kebelakang daripada kemuka. Buku-buku yang ditulis pada masa Sokrates adalah Apologie, Kriton, Ion,Protagoras,Laches, Politeia, buku I, Lysis, Charmides dan Euthypron. Dalam seluruh dialog itu Plato berpegang pada pendirian gurunya Sokrates. Dalam buku-buku itu tidak terdapat buah pikiran Plato yang timbul kemudian yang emnjadi corak filosofinya yaitu ajaran tentang idea. Cita-cita yang dikemukakan dalam tulisannya dimasa itu ialah pembentukkan pengertian dalam daerah etik. Buah tangan yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai “masa peralihan”, masa itu disebut juga masa Megara. Yaitu waktu Plato tinggal sementara itu dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias, Kratylos, Menon, Hippias dan beberapa lainnya. Tulisannya yang terkenal dari waktu itu dan kesohor sepanjang masa ialah Phaidros, Symposion, Phaidon, dan Politeia buku II-X. ajaran tentang idea menjadi pokok pikiran Plato dan menjadi dasar bagi teori pengetahuan, metafisika,psikologi, etik, politik, dan estetika.
Dialog-dialog Plato yang dikarang pada masa Tuanay sering disebut Theaitetos, Parmenides, Sophistos, Politios, Philibos, Timaios, Kritias, dan Nomoi. Tapi ada ahli-ahli yang menyaksikan keaslian dari beberapa dialog itu , dengan uraian yang terbentang dalam dialog itu Plato membawa pembacanya ke dareah Kosmologi dan filosofi alam. Dialog itu menunjukkan bahwa Plato bukan saja seorang filosof yang menguasai seluruh filosofi Grik sebelumnya, tetapi juga mempelajari berbagai ilmu special yang diketahui pada masanya.
Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asal yaitu api, udara, air, dan tanah. Menurut Plato tuhan sebagai pembangun alam, menyusur anasir yang empat itu dalam sebagai bentuk menjadi satu kesatuan, oleh karena itu pembangunan dunia sekaligus sikap hidup manusia dalam dunia ini.

PEMIKIRAN
Menurut Plato Negara ideal menganut prinsip yang mementingkan kebajikan. Kebajikan menurut Plato adalah pengetahuan, apapun yang dilakukan atas nama Negara harus dengan tujuan untuk mencapai kebajikan. Atas dasar itulah kemudian Plato memandang perlunya kehidupan bernegara. Tidak ada cara lain menurut Plato untuk membangun pengetahuan kecuali dengan lembaga-lembaga pendidikan, inilah yang kemudian memotivasi Plato untuk mendirikan sekolah dan akademi pengetahuan.
Plato menilai Negara yang mengabaikan prinsip kebajikan jauh dari  Negara yang didambakan manusia, sehingga Negara yang ideal menurut Plato adalah Negara yang menjunjung tinggi kebajikan.Plato menggambarkan seorang filsuf adalah dokter, meski mengetahui penyakit-penyakit yang dialami oleh masyarakat dan mampu mendiagnosa serta mendeteksi sejak dini Plato beranggapan munculnya Negara adalah akibat hubungan timbale balik dan rasa saling membutuhkan antar sesame manusia. Manusia juga dianugrahi bakat dan kemampuan yang tidak sama, masing-masing memiliki bakat alamiah yang berbeda dan itu menciptakan saling ketergantungan.
Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip-prinsip larangan atas kepemilikan pribadi baik dalam bentuk uang atau harta, keluarga, anak dan istri inilah yang disebut “NIHILISM”. Plato juga tidak memperkenankan lembaga perkawinan, tak seorangpun  yang dapat mengklaim istri mereka, istri hanya hanya bias menjadi hak kolektif hubungan seks yang dilakukan tidak boleh monogam melainkan poligami. Plato melihat lembaga perkawinan telah mengekang bakat alami manusia dan membuat diskriminasi.
Pemikiran Plato yang anti individualism yang telah merusak kehidupan social masyarakat Athena, manusia menjadi individualism hanya mementingkan kebutuhan diri mereka sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Ada tuduhan yang mengatakan bahwa Plato adalah anti demokrasi, argumentasi ini membenarkan tuduhan itu mengapa Plato menjadi anti demokrasi. Pemikiran Plato tidak terlepas dalam konteks sosio-hostoris kehancuran Athena. Kehancuran Athena menurut Plato bukan hanya karena kekalahan Athena dalam perang pelopenesos. Kemenangan Sparta atas Athena menunjukkan prinsip-prinsip dari kenegaraan Athena yang demokratis. Inilah yang melahirkan karya-karya Plato dalam judul republic. Dalam buku ini Plato secara tegas menujukkan simpati dan kekagumannya kepda system kenegaraan otoriter Sparta dan antipatinya kepada demokrasi. Plato menuduh kehancuran Athena disebabkan akibat demokrasi yang lemah dan disintegrasi serta tidak stabil.
Negara ideal menurut Plato adalah City State, Negara yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil. Negara luas akan sulit untuk menjaganya sementara negara kecil akan sulit dipertahankan karena mudah untuk dikuasai.

PENUTUP
Plato merupakan tokoh filsafat pada masa Yunani kuno yang mempunyai kedudukan  istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu seni filosofi. Menurut Plato Negara ideal itu Negara yang mempunyai prinsip kebajikan, Plato juga beranggapan bahwa dunia ini tercipta karena saling ketergantungan antar manusia yang menghuni bumi ini, dan manusia diciptakan dengan bakat dan kemampuan yang tak sama, maka dari itu manusia hidup didunia ini saling membutuhkan, karena manusia bukan mahkluk individu yang tidak bisa hidup sendiri. Dari Plato kita bisa belajar filsafat hidup yang sebenarnya, dan selalu memunculkan ide-ide baru.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Achmadi Asmoro, Filsafat Umum ,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
  2. Maksum, Ali. 2010. Pengantar Filsafat. Jogjakarta : Ar Ruzz Media
  3. Drs. Surajiyo,Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,PT Bumi Aksara,Jakarta,2008

*) Penyusun
Nama               : Eka Dila Prastiana
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

Sabtu, 14 Desember 2013

BIAS GENDER = TRADISI
Oleh : Arif Riza Azizi


Pengertian bias gender
Banyak sekali pengertian dari bias gender yang dapat kita temukan. Dengan mudah kita dapat menemukanya di dalam buku, atau mencari lewat internet. Salah satu diantaranya mengatakan bias gender adalah pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dengan sifat feminim dipandang selayaknya berperan di sektor domestik, sebaliknya laki-laki yang maskulin sudah sepatutnya berperan di sektor publik.
Berdasarkan asumsi masyarakat bias gender diartikan bahwa pekerjaan perempuan yang terbatas jika dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan diidentikkan dengan pekerjaan rumahan. Pekerjaan mereka mencakup urusan-urusan dapur dan sebagainya. Bahkan para orangtua sering bilang pada anak laki-lakinya untuk memilih istri yang pandai memasak. Hal itu cukup mematri pikiran kita semua, bahwa perempuan kerjanya di dapur, sebagai ibu rumah tangga,menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kadang kali, seorang perempuan diberikan tugas ganda jika mereka memilih untuk menjadi wanita karir. Disatu sisi, mereka harus bisa menyelesaikan persoalan rumah, sekaligus mengurusi pekerjaannya diluar rumah. Hal itu, sebagai konsekuensi yang harus diterima tanpa ada pengecualian.  
Menurut adat jawa, bias gender diartikan bahwa tugas  seorang perempuan yang terpenting adalah 3M (macak, masak, lan manak). Hal ini menimbulkan premis, seakan perempuan begitu dibatasi ruang lingkupnya kususnya dalam hal pekerjaan. Mereka hidup dalam aturan, yang mereka sendiri tidak pernah ingin menanggungnya.
Yang menjadi sorotan dari bias gender adalah masalah kedudukan, perbedaan peran seorang laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran yang seakan selalu memarginalkan peran perempuan, tanpa pernah memperhitungkan potensi yang mereka miliki.
Fakta lapangan
Dalam keberlakuanya, memang tidak pernah ada sosialisasi secara massive  dalam pembagian peran tersebut. Bias gender tercipta mulai dari lingkungan keluarga, dan dengan mudahnya menjulur ke semua lapisan masyarakat  diberbagai usia. Apa yang masyarakat terapkan sekarang, dulunya adalah hasil didikan orangtua mereka. Tetapi, mengapa masyarakat seakan menerima nasib dengan pasrahnya, dan tidak mau keluar dari keberlakuan bias gender yang  jonjing (tidak seimbang) ini.
Menariknya, bias gender sudah menjadi  sebuah sistem atau tradisi yang sangat luar biasa hebatnya. Mampu membentuk sebuah susunan rantai yang berkesinambungan tanpa pernah, dan akan sulit terputus.  Terjadi keberlanjutan yang terus - menerus dalam menurunkan tradisi ini, tanpa pernah ada pengajaran intensif ataupun sosialisai. Sistem itu sudah tertanam begitu saja dalam mindset mereka sejak mereka kecil.
Kita  juga bisa menyoroti keberlakuan bias gender  yang terjadi di lingkungan kampus. Dimana pemegang peran-peran penting tetap dikuasai oleh laki-laki. Padahal, mahasiswa sebagai kaum kritis dan intelektual, harusnya  bisa menganalisa adanya  kesenjangan tersebut. Dibanyak UKM misalnya, pemegang jabatan ketua masih  didominasi oleh laki-laki. Bukanlah karena tidak ada pihak perempuan disana. Tetapi lebih kepada ketidakmampuan mahasiswa dalam menafsirkan arti gender yang sesungguhnya. 
Di sebuah instansi atau perusahaan juga tidak luput dengan persoalan yang serupa. Mereka menganggap laki-lakilah yang lebih memiliki daya guna  lebih tinggi di dibanding  perempuan. Hal ini menimbulkan marginalisasi terhadap kemampuan dan potensi  perempuan itu sendiri. Bahkan mampu membentuk pemikiran buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, itu tidak akan merubah nasib kita,  toh tempat kita nantinya tetap di dapur”.
Seolah persoalan bias gender  dianggap kesalahan yang dibenarkan. Dibenarkan oleh pemikiran kaku masyarakat kita, bahwa inilah yang benar. Kita boleh saja menghormati atau menganggap laki-laki suatu saat ada di atas perempuan. Tapi, hal itu tidak berlaku seterusnya, kadang kali harus ada kesejajaran dalam mengartikan bias gender yang sebenarnya.
 Penyebab
Banyak faktor yang menyebabkan adanya strata bias gender. Yang pertama adalah budaya , yang tanpa disadari  mampu mengacak-acak pembagian peran laki-laki dan perempuan . Budayalah yang membentuk pemikiran kita bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang bisa memasak,  yang selalu berada di rumah, jarang keluyuran.
Selain budaya, agama juga menjadi faktor pembeda yang cukup besar dalam hal mempengaruhi pemikiran masyarakat tentang bias gender. Tetapi, dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan agama sepenuhnya. Karena,  sebenarnya agama tidak bisa dijadikan objek sesalahan,  bukanlah agama yang secara langsung mengkonstruk adanya  bias gender. Yang justru keliru adalah pemikiran masyarakat  kita sendiri, bagaimana masyarakat mencerna, menafsirkan  ajaran gender dalam agama tanpa diolah terlebih dahulu.
Dalam islam, melalui kitab suci al-quran serta hadist nabi, banyak sekali dibahas  tentang bias gender. Bagaimana kedudukan seorang laki-laki, perempuan didalam keluarga dan masyarakat. Masyarakat menganggap dalam agama seorang perempuan tidak diperbolehkan menjadi seorang pemimpin.
Mengutip dalam sebuah ayat alquran yang artinya :”laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan”. Masyarakat menafsirkan ayat tersebut secara langsung tanpa mengkajinya terlebih dahulu. Padahal laki-laki disini juga dapat diganti dengan subjek perempuan yang memiliki sifat seperti laki-laki, yang adil, bijaksana, dan lain-lain.
Respon masyarakat
Respon masyarakat sangat baik, tetapi baik dalam artian mereka mampu mentradisikan bias gender secara kontinu, berlanjut. Mereka menganggap hal ini bukanlah masalah yang harus diperhitungkan. Mereka merasa enjoy- enjoy  saja hidup dengan keadaan yang seperti ini.Mungkin karena mereka belum tahu atau bagaimana?  Tapi mereka menganggap tradisi seperti ini dapat dibenarkan, karena berasal dari orangtua mereka.
Sebenarnya masih ada segelintir orang yang menyadari bias gender itu salah. Tapi mereka tidak mampu melawan budaya yang sudah mentradisi tersebut. Mereka tidak mampu mempengaruhi penerima bias gender yang massive , dan lebih memilih untuk diam sembari melihat sistem itu dijalankan dimasyarakat.
Tetapi ada hal yang mesti diketahui, meskipun mereka pasif terhadap masyarakat, bukan berarti mereka membiarkan keluarganya terkontaminasi atau terpengaruh tradisi tersebut. Mereka akan selalu menanamkan kesetaraan gender meski sebatas lingkungan keluarga.
Solusi konkret
Melihat fakta seperti itu, seakan membuat pikiran kita frustasi. Menganggap tidak ada, kalaupun ada pasti sangat sulit, untuk mencari solusi untuk mengurai permasalahan bias gender. Bias gender  di dalam masyarakat  seakan  sudah mendarah daging dan mentradisi. Tradisi yang terus – menerus diturunkan kepada anak turun kita.
Kita juga tidak boleh menyalahkan peran orangtua atau masyarakat  yang juga berperan langsung mensosialisasikan adanya bias gender. Karena, pada umumnya mereka belum sepenuhnya tahu ketidakadilan dalam bias gender, meskipun mereka sendiri mengalaminya. Mereka belum punya control social untuk menolak tradisi tersebut. Mereka masih bersifat naïf, sudah menyadari tapi belum ada tindakan nyata untuk merubahnya.
Sebagai agent of change, kita harus mensosialisasikan cita-cita mulia untuk merubah paradigma masyarakat tentang bias gender, bahwa ini adalah sebuah kekeliruan, kalian jangan mau seterusnya diperbudak oleh bias gender yang timpang ini.
Memang menurut agama, kususnya agama islam, meninggikan kedudukan laki – laki terkadang harus dilakukan. Tetapi, kalian harus menggarisbawahi,bahwa tidak untuk semua hal  kita meninggikan kedudukan laki-laki. Ada disaat bagaimana menempatkan laki – laki sejajar dengan perempuan.Kita harus lebih bijak dalam menafsirkan ayat-ayat al quran dan hadist nabi, tentang kedudukan gender.
Jika sudah muncul mindset yang seperti itu, kita hanya perlu mendorong mereka, kususnya kaum perempuan, untuk berjuang menerapkan persamaan dalam bias gender. Bahwa kita harus mampu mengulang sejarah emansipasi wanita yang pernah diudarakan oleh RA Kartini. Beliau tokoh yang mampu tampil dari desakan kaum laki – laki untuk menyuarakan hak – hak  perempuan. Kalau perlu, kita harus mampu menciptakan sebuah gerakan emansi wanita jilid dua.
Selain itu kita harus belajar dari sejarah Siti Aisyah, istri nabi. Beliau pernah menjadi panglima dalam perang. Bayangkan, padahal beliau seorang perempuan, tapi beliau mampu memimpim pasukan yang anggotanya semua laki-laki. Selain itu, beliau juga pernah menjadi seorang pengajar ketika nabi Muhammad masih hidup. Meskipun nabi Muhammad mengetahui hal tersebut, tapi beliau tidak pernah melarang Siti Aisyah untuk berhenti mengajar.
Hal itu cukup menggaransi bahwa bias gender itu tidak pernah dibenarkan, marjinalisasi terhadap peran perempuan juga harus dihapuskan. Kaum perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki. Tetapi tetap harus diingat, tuntutan hak tersebut harus dengan control social, dimana kaum perempuan harus memahami kapan saatnya hak laki-laki dan perempuan itu setara.