my sense of imagination

ads1

Minggu, 16 Februari 2014

Oleh : Arif Riza

Hari minggu, para petani tetap giat mencangkuli sawahnya. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lainya. Memaknai hari minggu sebagai hari giat bertani. Menggantikan kesenangan libur keluarga dengan cangkul atau sabitnya. Dia rela menduakan keluarga dan lebih setia bercengkerama dengan sawahnya.
                Kegiatan bertani sangat didukung dengan kondisi alam Indonesia. Dalam lirik lagu koesplus tanah Indonesia dianggap sebagai tanah surga, dalam bahasa jawa disebut Loh Jinawi, sebagai representasi  keadaan alam surga yang hijau dan asri. Beribu-ribu jenis flora tumbuh subur di belantara Indonesia. Bahkan kayu saja dapat hidup dan tumbuh subur di tanah Indonesia ini.
                Mereka  menganggap, bertani bukanlah sekedar masalah ekonomi,  tapi lebih dari itu. Bertani dianggap sebagai warisan budaya.  Kegiatan bertani juga dianggap sebagai  meneruskan warisan budaya. Selain lahan dari warisan orang tuanya, mereka bertani karena mewarisinya sejak jaman kerajaan.  Jadi mereka tetap berpegang teguh pada mata pencaharian nenek moyang mereka  yang seorang petani, meskipun ada nyanyian yang bilang nenek moyangku seorang pelaut.
                Bertani juga memiliki sisi-sisi yang magis, yang masih dipegang kebudayaan jawa sampai saat ini. Tidak hanya sekedar kegiatan bercocok tanam. Lebih dari itu, dalam buku Dasar-Dasar Usaha Tani di Indonesia (1984), disebutkan hasil bercocok tanam juga dapat memperlihatkan kekuatan, sulit dihancurkan, atau mempunyai sifat-sifat luar biasa. Bahkan hasil-hasil cocok tanam seringkali dipakai sebagai lambang-lambang  seperti;  kelapa, padi, kapas dan lain sebagainya.
 Jika tetap berpegang bahwa  bertani sebagai nilai ekonom, tentu mereka sangat keliru memilih bertani untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Harga-harga sudah dimonopoli sedemikian rupa oleh instansi terkait. Sehingga tidak memungkinkan lagi bergelantungan pada hasil panenan mereka. Lha kok mereka tetap berjudi mematenkan pertanian sebagai pekerjaan vital.
                Di perkotaan besar semakin jarang kita menemukan lahan-lahan untuk bercocok tanam. Hektaran lahan yang dulunya ditumbuhi padi sekarang berjejalan,  tumbuh apartemen  menjulang tinggi. Dalam The Principle of Political Economy and Taxation (1921), David Ricardo mengkaitkan proses produksi dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Permintaan terhadap sumber daya produksi meningkat sedemikian rupa, agar manusia dapat mempertahankan kehidupan. Untuk itu, semakin banyak tanah diperlukan. Selain sebagai hunian, lahan-lahan tersebut juga dialihfungsikan menjadi lahan industri. Data yang dikemukakan Kompas (13 Juli 1995) menyebutkan sekitar 900.000Ha tanah pertanian di Pulau Jawa telah dikonversi menjadi lahan non-pertanian.
                Tidak hanya menyangkut masalah teknis saja. Kendala bertani sudah menjalar pada hal yang sifatnya non teknis. Sekarang dunia pertanian sudah dimasuki oleh mereka para kaum kapitalis. Mereka menggunakan uang dan kekuasaanya untuk merebut tanah milik petani kecil. Padahal dalam konteks agraria sector tanah menempati posisi yang vital. Tanah mereka ubah dari alat subsistensi rakyat menjadi alat produksi bagi organisasi produksi kapitalis.
                Dalam bukuPetani dan Penguasa (1999), mencatat sejumlah kasus tanah yang berkembang dalam tahun 1980-an menunjukkan penggunaan mekanisme manipulasi dan kekerasan. Bentuk manipulasi diantaranya: klaim telah berdasar musyawarah, menyuap pimpinan dari para petani/penduduk, pemalsuan tanda-tangan, pencapan(labeling/stigmatisasi)PKI-Mbalelo-Anti Pembangunan terhadap petani/penduduk, dan lain-lain. sedangkan yang berbentuk kekerasan berupa: intimidasi, terror, penyiksaan, penggunaan mekanisme hokum acara pidana,pembakaran hingga penggunaan senjata yang mengakibatkan korban.
                Lebih lanjut dalam buku yang sama dituliskan, ekspresi konflik demikian menunjukkan bahwa dimensi sengketa tanah sudah tidak hanya bisa dipahami sebagai sengketa tanah saja. Sengketa tanah adalah suatu puncak gunung dari sengketa-sengketa lain yang juga mendasar. Sengketa tersebut antara lain: sengketa antar system, sengketa antar mayoritas-minoritas, sengketa antar warga Negara melawan Negara, dan sengketa antar sistem ekologi.
                Memang serba sulit kehidupan para petani sekarang ini. Mereka harus dibenturkan dengan berbagai permasalahan yang mereka sendiri belum pernah menelaah yang demikian. Apalagi mereka, petani  yang masih tradisional, bercocok tanam dengan berpegang pada warisan orang-orang sebelumnya. Pemikiran mereka masih sangat dangkal dan dengan mudah dapat dimanfaatkan oleh mereka kaum kapital.
                Memang masalah petani di Indonesia begitu rumit sampai menjulur pada hal-hal yang sistemis. Tapi bagi mereka petani yang tetap melestarikannya sebagai sebuah kegiatan atau profesi, tentu keadaan akhir-akhir ini membawa angin segar tersendiri. Nasib petani sudah mulai diperhatikan keberlangsunganya. Mereka dianggap memiliki nilai multifungsi. Bertani sekarang tidak hanya dimiliki oleh petani saja. Lebih dari itu bertani sekarang dapat dinikmati oleh semua orang.
Mengapa saya katakan bertani sekarang dapat dinikmati semua orang. Karena  diera global warming, tanaman mereka dapat digunakan sebagai penghijauan. Tanaman itu digunakan sebagai pengganti hutan-hutan yang gundul karena penebangan-penebangan liar. Meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan tapi paling tidak itu sebagai sumbangsih petani pada alam raya.
Nilai yang kedua adalah, bertani sekarang digunakan sebagai media rekreasi. Itulah yang sekarang dikembangkan oleh banyak pihak. Target mereka adalah orang-orang perkotaan. Mereka yang keseharianya didisi dengan kesibukan di kantor, sekolah, atau tempat kerja lainnya. Dengan berekreasi di lahan pertanian mereka dikenalkan pada proses bercocok tanam yang rumit dan berkelanjutan. Dengan tujuan itu mereka nantinya diberi pengetahuan bagaimana proses bercocok tanam, yang tidak akan mereka dapatkan di instansi pendidikan manapun. Selain itu, hal itu dilakukan untuk menciptakan nilai apresiasi bagi jasa petani yang telah berjasa menghasilkan nasi, sayuran, dan hasil-hasil lainnya untuk mereka santap setiap hari.
               

                
Oleh : Arif Riza Azizi

            Perpustakaan, sekarang harusnya menjadi tempat yang lebih akrab pada ku, kepada kehidupan keseharianku. Kini aku merasa dalam diri ku timbul secerca semangat untuk membaca-membaca dan terus membaca. Dan perpustakaan saya anggap sebagai pemuas nafsu ku saat ini, kala aku belum punya buku sendiri atau aku belum bisa menemukan sarana lain pengganti perpustakaan. Saya punya keinginan untuk masuk perpustakaan setiap kali sehari. Untuk mengelus satu per satu halaman, menatapnya penuh mesra, mencurahkan semua pikiran pada dia seorang. Dan sejauh ini, itulah pemahaman saya tentang perpustakaan. Perpustakaan bagi ku hanya sebagai sarana pasif, yang hanya menyediakan buku-buku berak-rak  jumlahnya. Inilah ironi mencengangkan yang saya hadapi, dan saya menduga hal ini juga terjadi pada kalian juga.
            Menggali Pustaka Candi, yang diadakan di UII Yogyakarta, 11 Februari 2014. Menambah informasi saya tentang perpustakaan. Seminar yang menuturkan berbagai macam kepustakaan berdasarkan berbagai perspektif, berdasarkan profesi ke tiga narasumber yang dihadirkan. Perpustakaan dalam perspektif seorang penulis, seniman dan dosen.
            Namun saya lebih tertarik mencatat apa yang  disampaikan oleh Elisabeth. Perpustakaan dipandang Elisabeth, seorang penulis yang menjadi narasumber di seminar tersebut, menjadi tiga macam bentuk, yang bisa disebut penggolongan berdasarkan zaman peradaban. Yang pertama, perpustakaan dipandang sebagai bentuk akal budi manusia yang tersimpan di memori pengingatnya. Pengertian ini didasarkan pada kondisi peradaban nguping,yang belum ada perwujudan suara menjadi tulisan. Jadi, informasi-informasi yang mereka peroleh dari hasil mengamati maupun mewawancarai narasumber, akan mereka tata ke dalam memori ingatannya.
            Yang ke dua, perpustakaan berbentuk batu, lontar, kulit, daun ataupun kertas. Hasil perwujudan dari pengetahuan mereka akan dituliskan pada sarana-sarana tersebut. Mereka mencoba mengabadikan pengetahuannya, karena kesadaran akan kefanaan dunia ini. Dan karena hal itu juga, dirasa daya ingatan mereka tidak akan sepeka saat mereka menggunakan akal budi manusia sebagai sarana perpustakaan.
            Yang ke tiga, dan “mungkin belum ada pengakuan atas gagasan ini”, kelakar Elisabeth, bahwa perpustakaan kini dimediasi oleh berkembangnya dunia maya. Tetapi yang menarik adalah keyakinan dari Elisabeth akan kembalinya perpustakaan dari dunia maya kembali pada daya ingat akal budi manusia. Berarti perwujudan dari perpustakaan akan membentuk siklus, dari era dunia maya yang menjadi pangkal akan kembali ke awal berbentuk akal budi manusia. Hal ini dirasa sebuah desakan yang harus diwujudkan. Karena dunia maya telah menimbulkan efek kafein yang sudah tentu berlebihan. Mereka akan selalu dan terus menerus bergantung pada teknologi yang memang instan, cepat dan mudah untuk menemukan jawaban masalah yang kita hadapi. Tapi hal itu berdampak pada menurunnya daya ingat kita, yang semakin jarang kita gunakan.
            Tidak banyak yang saya ketahui hal tentang perpustakaan. Sejarah dari perpustakaan saya ketahui saat mempelajari masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khotob. Tetapi saat itu sebenarnya bukan perpustakaan yang sebenarnya. Yang saya maksud adalah perpustakaan yang berbentuk satu ruangan khusus untuk menyimpan buku. Di masa itu perpustakaan masih berada di masjid-masjid, di dalam ruangan tersendiri. Masjid kala itu bisa dibilang sebagai sarana multifungsi. Selain ada perpustakaan di sana juga dilangsungkan proses belajar mengajar, yang dulunya dikenal dengan pembelajaran secara shorogan. Yaitu, setelah mempelajari buku-buku yang ada kemudian mereka akan beridiskusikanya dengan seorang tutor perpustakaan. Dan proses itulah yang dulunya menjadi proses belajar mengajar satu-satunya, karena belum adanya universitas.
            Selain masjid yang digunakan sebagai sarana multifungsi, ternyata gereja juga dimanfaatkan sedemikian rupa untuk tempat menyimpan buku-buku. Di bantul, seorang shul mulder menjadikan gereja sebagai tempatnya menyimpan buku-buku. Dia setiap saat berada di gereja itu, untuk mempelajari buku-buku yang ada di sana.

            Entahlah, sejarah perpustakaan yang seperti ini belumlah cukup untuk menggambarkan bagaimana perpustakaan itu sebenarnya. Perpustakaan saat itu bisa dibilang masih nimbrung, ke masjid-masjid atau gereja-gereja, yang sebenarnya adalah tempat untuk sembahyang untuk saat ini. Tapi saya kira menggunakan masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya sebagai sarana multifungsi menjadi hal yang tepat. Karena tempat-tempat itu bukan hanya melulu menjadi tempat beribadah, tetpai harus ada kegiatan lain yang tentunya bermanfaat, seperti digunakan untuk perpustakaan.
Oleh : Arif Riza
Banjir bahasa, tentu menjadi sebuah inovasi, pembaruan dalam daftar ketatabahasaan kita. Betapa tidak, semua orang yang sekarang masih hidup atau mereka yang sudah mati, menganggap banjir identik dengan air. Mereka berpegangan pada satu kaidah pengertian bahasa yang linier.
                Pada hakikatnya, pengertian banjir dapat ditelikungkan ke dalam macam-macam bentuk. Dan tergantung pada kata apa yang mengiringi kata banjir.  Salah satu contohnya ketika banjir ditambah dengan bahasa, yang akan timbul satu kalimat baru berupa “banjir bahasa”.
                Pengertian banjir selalu menimbulkan pemikiran yang negatif. Begitu juga jika kita mengartikan banjir bahasa. Banjir bahasa sebagai sebuah bencana yang mengakibatkan sebuah bahasa pokok tergerus oleh berbagai macam bahasa yang sedang tren dimasyarakat.
                Tanpa kita sadari, kitalah yang berperan pada keadaan ini, bencana banjir bahasa. Kita menebangi pohon-pohon bahasa, menghancurkan drainase bahasa, membuang sampah bahasa sembarangan, tidak memperbaiki sistem irigasi bahasa. Dan tanpa kita sadari, kita telah hanyut terbawa oleh arus banjir bahasa tersebut.
                Posisi kita sekarang hanyalah menjadi konsumen absolut. Kita hanya mencerna bahasa yang akhirnya menumpuk dan membusuk di dalam memori otak. Kita belum mampu untuk memproduksi bahasa sendiri, atau paling tidak menyaring masuknya banjir bahasa ke dalam diri kita.
                Kalau kita sudah tahu memori kita sudah penuh, lober dengan banyaknya bahasa yang bersemayam dalam otak kita. Kita tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Ibarat orang kaya, mesti dia memiliki kewajiban untuk bersedekah, membayar zakat, atau beramal pada mereka yang kekurangan. Begitu juga dengan tumpukan bahasa di otak kita, yang seakan menggenangi memori otak, maka kita harus mensedekahkannya pada orang lain. Kita jangan menjadi seorang yang kikir bahasa.
                Tapi ada kemungkinan juga kalau kita itu fakir bahasa. Memang benar kita mengonsumsi beribu-ribu bahasa setiap hari, tapi entah bagaimana caranya, bahasa itu menghilang begitu saja. Bahasa masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Kita cenderung menjadi orang yang apatis, yang tidak mau peduli pada apa yang sebenarnya terjadi disekitar kita.

Banjir bahasa menjangkit di mana-mana
                Jika kita membenturkan banjir bahasa dengan dunia politik di Indonesia, yang sedang marak-maraknya aksi kampanye para politikus, tentu masih ada keterkaitannya. Politikuslah yang menjejali kita dengan slogan-slogan persuasif, yang hanya mementingkan tujuan mereka demi kesuksesan pemilu.
                Ada juga peran para tokoh agama, seperti para da’i yang mengatasnamakan syiar agama, ikut menciptakan arus banjir bahasa. Seperti da’i-da’i di televisi yang menciptakan bahasa sendiri, yang baru dan alay. Tujuan mereka hanya ingin dia diminati oleh masyarakat luas tanpa memandang akibat baik dan buruknya.
Dan fakta menariknya, dari bidang apapun itu, ada semacam pendistribusian bahasa secara terus menerus kepada kita para konsumen, yang kita tak kuasa menentang arus tersebut. Kita terus menerus tererupsi oleh arus bahasa, tanpa pernah dapat bangkit dan menepi dari arus tersebut.

Alai arus banjir yang berbahaya
                Jika kita sering menonton televisi, tentu kita akan sering mendengar bahasa-bahasa yang aneh dan terbaru. Bahasa tersebut yang akhirnya mampu menginfeksi para penonton setia televisi. Mereka akan beradaptasi, mengikuti tren bahasa yang diciptakan diacara-acara pertelevisian.
                Terutama arus itu akan semakin deras, jika yang mengucapkannya adalah para artis-artis terkenal, yang menjadi idola kita. Entah itu dari artis komedian, artis perfilm-an, maupun para tokoh politik yang sering dimunculkan sebagai promosi menjelang pemilu.
                Untuk para politikus, merekalah subjek yang paling pintar memanfaatkan situasi yang dialami oleh masyarakat pada umumnya. Mereka pandai menganalisis kemampuan masyarakat yang akan mereka jadikan korban arus banjir bahasa yang mereka ciptakan.

Atur jarak dan posisi
                Lalu bagaimana kita mengkondisikan keadaan untuk menentang arus tersebut, atau paling tidak mengungsi dari arus banjir bahasa? Jujur saja, hal itu sangatlah sulit. Karena yang terjadi pada umumnya, kita yang beradaptasi, menyesuaikan diri dengan munculnya bahasa-bahasa baru yang sedang nge-tren.
Mana mungkin ada bencana malah kita bahagia. Kita jangan mau mengikuti budaya masyarakat yang telah terbawa oleh arus banjir bahasa. Tidak usah memperdulikan perkataan mereka yang bilang kalau kita kuper lah, gak gaul lah. Mereka itulah yang bersenang-senang di atas penderitaan sendiri. Mereka yang malah berselancar, atau berenang di tengah-tengah bencana banjir tersebut.
                Lebih baiknya kita menyingkir dari arus banjir bahasa tersebut. Karena kita belum tentu mampu untuk melawan arus besar yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan kita. Kita harus mengatur jarak aman, sehingga kita dengan tenang berdiri sendiri di tempat kering yang jauh dari banjir bahasa.

Sendiri dan terisolasi
                Kita bisa saja menghindar dari arus banjir bahasa. Tapi akibat yang ditimbulkannya, kita akan masuk ke dalam hutan rimba yang tidak berepenghuni. Yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian manusia. Tanpa kita sadari, kita telah berjalan berlainan arah dengan mereka yang telah terbawa oleh arus banjir bahasa. Bahkan kita hanya bisa berpapasan dengan mereka, para sahabat  yang kita kenal akrab.
                Inilah sisi lain yang tentunya akan membuat kita binggung menentukan pilihan. Kita akan dicap manusia aneh, yang tidak sama dengan masyarakat pada umumnya. Bahkan yang paling buruk kita dianggap sebagai manusia asosial, yang tidak mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
                Jika kita berani melawan arus banjir bahasa, kita akan akan diganjar dengan predikat manusia langka di bumi ini. Kita akan menjadi bagian kecil manusia yang mampu menggentaskan diri dari banjir tersebut. Yang lebih hebat lagi, kita mampu membawa teman kita sadar untuk menepi, dan menjauh dari derasnya arus tersebut. Kita tidak boleh terbebas sendirian, tetapi kita juga harus menolong mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Jika kita tidak berusaha menolong mereka terbebas dari situasi tersebut, itulah yang dinamakan tindak asosial yang sebenarnya.
               



Minggu, 15 Desember 2013

Periode filsafat Yunani merupakan periode penting sejarah peradaban manusia, karena pada waktu terjadi perubahan pola piker manusia dari mitologi menjadi rasional. Pola piker mitologi merupakan pola piker masyarakat yang masih sangat mengandalkan mitos atau lebih percaya pada hal-hal yang tabu.
Zaman Yunani kuno merupakan zaman keemasan filsafat. Karena pada masa ini manusia bebas dalam mengeluarkan ide-ide dan pendapat mereka dan menjadikan mereka mampu berpikir secara kritis. Pada zaman Yunani kuno tokoh filsafatnya dikenal dengan nama filsuf. Banyak sekali filsuf-filsuf dari zaman Yunani kuno, hingga modern. Di dalam makalah ini membahas salah satu filsuf dari zaman Yunani kuno yang bernama Plato (429-347 SM), yang sekaligus merupakan murid dari Socrates.


BIOGRAFI TOKOH
Plato merupakan salah satu filsuf yang terlahir di Atena pada tahun427 SM, dan meninggal pada tahun 347 SMdi Atena pula pada usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga aritokrasi yang turun temurun memegang politik penting dalam politik Atena. Ia bercita-cita menjadi orang Negara, tapi perkembangan politik dimasanya tidak memberi kesempatan padanya untuk mengikuti jan hidup yang diinginkannya itu.
Namanya bermula Aristokles, Plato merupakan nama pemberian gurunya. Ia memperoleh nama itu karena bahunya yang lebar sepadan dengan badannya yang tinggi dan tegap raut mukanya, potongan tubuhnya serta parasnya yang elok. Pelajaran yang diperolehnya dimasa kecil, selain pelajaran umum adalah menggambar dan melukis disambung dengan belajar musik dan puisi. Sebalum dia dewasa dia sudah pandai membuat karangan yang bersajak. Dimasa itu Plato mendapat didikan dari guru-guru filosofi, pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya adalah murid Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu” seperti air. Sejak umur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Sokrates dan pelajaran itulah yang memberikan kepuasan baginya.
Pengaruh Sokrates makin hari makin mendalam padanya, ia menjadi murid Sokrates yang setia sampai pada akhir hidupnya Sokrates tetap menjadi pujaannya. Dalam segala karangannya yang berbentuk dialog, bersoal jawab. Sokrates kedudukannya sebagai pujangga yang menuntun, dengan cara begitu ajaran Plato tergambar keluar melalui mulut Sokrates. Setelah pandangan filosofinya sudah jauh menyimpang dan sudah lebih lanjut dari pandangan gurunya. Sokrates digambarkannya sebagai guru bahasa isi hati riwayat di Atena yang tertindas karena kekuasaan yang saling berganti. Kekuasaan demokrasi yang meluap menjadi anarki dan sewenang-wenang digantikan berturut-turut oleh kekuasaan seorang tiran dan oligarki, yang akhirnya membawa Atena lenyap ke bawah kekuasaan asing.
Plato mempunyai kedudukan yang istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu seni filosofi. Pandangan yang mendalam dan abstrak sekalipun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof sebelumnya dapat menandinginya dalam hal ini. Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim meminum racun, besar sekali pengaruhnya atas pandangan hidup Plato Sokrates dimatanya adalah seorang yang jujur dan adil orang yang tak pernah salah.
Tidak lama setelah Sokrates meninggal, Plato pergi dari Atena, itulah permulaan ia mengembara 12 tahun lamanya dari tahun 399 SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan filosofinya. Ada cerita yang mengatakan bahwa ia mengarang beberapa dialog yang mengenai berbagai macam pengertian dalam masalah hidupberdasarkan ajaran Sokrates. Dari Megara ia pergi ke Kyrena, dimana ia memperdalampengetahuannya tentang matematik pada seorang guru yang bernama Theodoros, disana ia juga mengarang buku-buku dan mengajarkan filosofi. Kemudian ia pergi ke Italia Selatan dan terus ke Sirakusa di pulau Sisiria yang pada wkatu itu diperintah oleh seorang tiran yang bernama Dionysios yang mengajak Plato tinggal di istananya. Disitu Plato kenal dengan ipar raja Dionysios yang masih muda bernama Dion yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Mereka berdua sepakat mempengaruhi Dionysisos dengan ajaran filosofinya agar kehidupan sosialnya menjadi lebih baik. Tetapi ajaran Plato membuat Dionysios menjadi jemu. Pada tahun 367 SM setelah Plato 20 tahun menetap dalam Akademia, diterimanya undangan dari Dion untuk dating ke Sirakusa, setelah Dionysios meninggal maka digantikanoleh Dion dengan nama dionysios II dan berharap Plato dapat mengajarkan kepada yang masih muda itu “pandangan filosofi tentang kewajiban pemerintah menurut pendapat Plato” akhirnya Plato berangkat ke Sirakusa dan disambut oleh raja dengan gembira, tetapi bagi raja itu filosofi itu tidak menarik akhirnya intrigue, fitnah dan hasutan merajalela dalam istana itu. Akhirnya Dion dibenci oleh raja dan dibuang ke Sisilia. Kemudian Plato kembali ke Atena, tapi 6 tahun kemudian pada tahun 361 SM plato ketiga klainya dating ke Sirakusa, raja Dionysios II dengan Dion berusaha agar Plato kemabali ke Sirakusa, tapi maksudnya tidak berhasil dan harapannya untuk mencoba sekali lahi melaksanakan cita-citanya tentang pemerintahan yang baik dalam politik gagal sama sekali.
Akhirnya Plato kembali ke Atena dan memusatkan pada Akademia sebagai guru dan pengarang. Plato tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Pemikiran yang dicetuskan Plato: intisari dari filosofi plato ialah pendapatnya tentang idea itu adalah suatu ajara yang sulit pemahamannya. Salah satu sebab ialah bahwa pahamannya tentang idea selalu berkembang, bermula idea itu dikemukakan sebagai teori logika, kemudian meluas menjadi pandangan hidup,menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik social mencakup pandangan agama. Plato memisahkan kenyataan yang kelihatan dalam alam yang lahir dimana berlaku pandangan Herakleitos dan alam pengertian yang abstrak dimana berlaku pandangan Parmenides. Dalam bidang yang pertama yang ada hanya kiraan, sebab kalau semuanya mengalir tidak berhenti-henti, tiap barang bagi setiap orang pada setiap waktu hanya berupa seperti yang terbayang dimukanya maka manusia menjadi ukuran segalanya seperti dikatakan oleh Protagoras. Tetapi pengetahuan dapat memberikan apa yang tetap adanya yaitu idea. Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak, ia timbul semata-mata karena kecerdasan berpikir pengertian yang dicari dengan pikiran adalah idea. Idea pada hakikatnya sudah ada, tinggal mencarinya sja. Pokok tinjauan filosofi Plato adala mencari pengetahuan tentang pengetahuan, ia bertolak dari ajaran gurunya Sokrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagi dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung didalamnya pengetahuan dan budi yang dicarinya bersama-sama dengan Sokrates, pada hakekatnya berlainan sama sekali dari pandangannya, sifatnya tidak diperoleh dari pengalaman. Pemandangan hanya alas an untuk menuju pengertian, ia diperoleh atas usaha akal sendiri.
Idea menurut paham Plato tidak saja pengertian jenis, tetapi juga bentuk dari kedaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu suatu pikiran melainkan suatu realita. Pendapat Parmenides tentang adanya yang satu kekal, dan tidak berubah-ubah, tapi yang baru dalam ajaran Plato ialah pendapatnya tentang suatu dunia yang tidak bertubuh. Filosof grik sebelumnya dia tidak genal gambaran dunia semacam itu , juga adanya dalam pikiran Parmenides yang mengisi sepenuh-penuhnya, sehingga tidak ada lagi tempat yang kosong. Dunia yang bertubuh adalah dunia yang dapat diketahui dengan pandangan dan pengalaman. Semua itu bergerak dan berubah senantiasa tidak ada yang tetap dan kekal. Dari pandangan dan pengalaman saja tidak akan pernah tercapai pengetahuan pengertian.
Berhadapan dengan itu terdapat dunia yang tidak berubah daripada idea, yang lebih tinggi tingkatnya dan yang menjadi objek dari pengetahuan pengertian apabila pengertian yang dituju itu memperoleh bentuknya yang tepat, ia tidak berubah-ubah lagi dan berrtempat didalam dunia idea. Idea itulah yang melahirkan pengetahuan yang sebenarnya.
Dalam konsepsi Plato dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh terpisah sama sekali, tetapi dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Menurut Plato pengertian yang sebanyak itu menunjukkan banyaknya jenis idea, idea yang tertinggi ialah kebaikan, sebagai tuhan yang memebentuk dunia. Plato menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan adalah pokok, karena dunia idea tersusun menurut system teleology.
Etik Plato: pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi ada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan diteruskannya ke dalam praktik hidup, oleh karena itu kemauan seseorang bergantung kepada pendapatnya, nilai kemauannya itu ditentukan pula oleh pendapat itu. Jadinya menurut Plato ada 2 macam budi, pertama budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian. Kedua, budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak. Pandangan Plato tentang Negara dan luasnya masih terpaut pada masanya, ia lebih memandang kebelakang daripada kemuka. Buku-buku yang ditulis pada masa Sokrates adalah Apologie, Kriton, Ion,Protagoras,Laches, Politeia, buku I, Lysis, Charmides dan Euthypron. Dalam seluruh dialog itu Plato berpegang pada pendirian gurunya Sokrates. Dalam buku-buku itu tidak terdapat buah pikiran Plato yang timbul kemudian yang emnjadi corak filosofinya yaitu ajaran tentang idea. Cita-cita yang dikemukakan dalam tulisannya dimasa itu ialah pembentukkan pengertian dalam daerah etik. Buah tangan yang ditulisnya dalam masa yang terkenal sebagai “masa peralihan”, masa itu disebut juga masa Megara. Yaitu waktu Plato tinggal sementara itu dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias, Kratylos, Menon, Hippias dan beberapa lainnya. Tulisannya yang terkenal dari waktu itu dan kesohor sepanjang masa ialah Phaidros, Symposion, Phaidon, dan Politeia buku II-X. ajaran tentang idea menjadi pokok pikiran Plato dan menjadi dasar bagi teori pengetahuan, metafisika,psikologi, etik, politik, dan estetika.
Dialog-dialog Plato yang dikarang pada masa Tuanay sering disebut Theaitetos, Parmenides, Sophistos, Politios, Philibos, Timaios, Kritias, dan Nomoi. Tapi ada ahli-ahli yang menyaksikan keaslian dari beberapa dialog itu , dengan uraian yang terbentang dalam dialog itu Plato membawa pembacanya ke dareah Kosmologi dan filosofi alam. Dialog itu menunjukkan bahwa Plato bukan saja seorang filosof yang menguasai seluruh filosofi Grik sebelumnya, tetapi juga mempelajari berbagai ilmu special yang diketahui pada masanya.
Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles, bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asal yaitu api, udara, air, dan tanah. Menurut Plato tuhan sebagai pembangun alam, menyusur anasir yang empat itu dalam sebagai bentuk menjadi satu kesatuan, oleh karena itu pembangunan dunia sekaligus sikap hidup manusia dalam dunia ini.

PEMIKIRAN
Menurut Plato Negara ideal menganut prinsip yang mementingkan kebajikan. Kebajikan menurut Plato adalah pengetahuan, apapun yang dilakukan atas nama Negara harus dengan tujuan untuk mencapai kebajikan. Atas dasar itulah kemudian Plato memandang perlunya kehidupan bernegara. Tidak ada cara lain menurut Plato untuk membangun pengetahuan kecuali dengan lembaga-lembaga pendidikan, inilah yang kemudian memotivasi Plato untuk mendirikan sekolah dan akademi pengetahuan.
Plato menilai Negara yang mengabaikan prinsip kebajikan jauh dari  Negara yang didambakan manusia, sehingga Negara yang ideal menurut Plato adalah Negara yang menjunjung tinggi kebajikan.Plato menggambarkan seorang filsuf adalah dokter, meski mengetahui penyakit-penyakit yang dialami oleh masyarakat dan mampu mendiagnosa serta mendeteksi sejak dini Plato beranggapan munculnya Negara adalah akibat hubungan timbale balik dan rasa saling membutuhkan antar sesame manusia. Manusia juga dianugrahi bakat dan kemampuan yang tidak sama, masing-masing memiliki bakat alamiah yang berbeda dan itu menciptakan saling ketergantungan.
Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip-prinsip larangan atas kepemilikan pribadi baik dalam bentuk uang atau harta, keluarga, anak dan istri inilah yang disebut “NIHILISM”. Plato juga tidak memperkenankan lembaga perkawinan, tak seorangpun  yang dapat mengklaim istri mereka, istri hanya hanya bias menjadi hak kolektif hubungan seks yang dilakukan tidak boleh monogam melainkan poligami. Plato melihat lembaga perkawinan telah mengekang bakat alami manusia dan membuat diskriminasi.
Pemikiran Plato yang anti individualism yang telah merusak kehidupan social masyarakat Athena, manusia menjadi individualism hanya mementingkan kebutuhan diri mereka sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Ada tuduhan yang mengatakan bahwa Plato adalah anti demokrasi, argumentasi ini membenarkan tuduhan itu mengapa Plato menjadi anti demokrasi. Pemikiran Plato tidak terlepas dalam konteks sosio-hostoris kehancuran Athena. Kehancuran Athena menurut Plato bukan hanya karena kekalahan Athena dalam perang pelopenesos. Kemenangan Sparta atas Athena menunjukkan prinsip-prinsip dari kenegaraan Athena yang demokratis. Inilah yang melahirkan karya-karya Plato dalam judul republic. Dalam buku ini Plato secara tegas menujukkan simpati dan kekagumannya kepda system kenegaraan otoriter Sparta dan antipatinya kepada demokrasi. Plato menuduh kehancuran Athena disebabkan akibat demokrasi yang lemah dan disintegrasi serta tidak stabil.
Negara ideal menurut Plato adalah City State, Negara yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil. Negara luas akan sulit untuk menjaganya sementara negara kecil akan sulit dipertahankan karena mudah untuk dikuasai.

PENUTUP
Plato merupakan tokoh filsafat pada masa Yunani kuno yang mempunyai kedudukan  istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu seni filosofi. Menurut Plato Negara ideal itu Negara yang mempunyai prinsip kebajikan, Plato juga beranggapan bahwa dunia ini tercipta karena saling ketergantungan antar manusia yang menghuni bumi ini, dan manusia diciptakan dengan bakat dan kemampuan yang tak sama, maka dari itu manusia hidup didunia ini saling membutuhkan, karena manusia bukan mahkluk individu yang tidak bisa hidup sendiri. Dari Plato kita bisa belajar filsafat hidup yang sebenarnya, dan selalu memunculkan ide-ide baru.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Achmadi Asmoro, Filsafat Umum ,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
  2. Maksum, Ali. 2010. Pengantar Filsafat. Jogjakarta : Ar Ruzz Media
  3. Drs. Surajiyo,Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,PT Bumi Aksara,Jakarta,2008

*) Penyusun
Nama               : Eka Dila Prastiana
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

Sabtu, 14 Desember 2013

BIAS GENDER = TRADISI
Oleh : Arif Riza Azizi


Pengertian bias gender
Banyak sekali pengertian dari bias gender yang dapat kita temukan. Dengan mudah kita dapat menemukanya di dalam buku, atau mencari lewat internet. Salah satu diantaranya mengatakan bias gender adalah pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dengan sifat feminim dipandang selayaknya berperan di sektor domestik, sebaliknya laki-laki yang maskulin sudah sepatutnya berperan di sektor publik.
Berdasarkan asumsi masyarakat bias gender diartikan bahwa pekerjaan perempuan yang terbatas jika dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan diidentikkan dengan pekerjaan rumahan. Pekerjaan mereka mencakup urusan-urusan dapur dan sebagainya. Bahkan para orangtua sering bilang pada anak laki-lakinya untuk memilih istri yang pandai memasak. Hal itu cukup mematri pikiran kita semua, bahwa perempuan kerjanya di dapur, sebagai ibu rumah tangga,menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kadang kali, seorang perempuan diberikan tugas ganda jika mereka memilih untuk menjadi wanita karir. Disatu sisi, mereka harus bisa menyelesaikan persoalan rumah, sekaligus mengurusi pekerjaannya diluar rumah. Hal itu, sebagai konsekuensi yang harus diterima tanpa ada pengecualian.  
Menurut adat jawa, bias gender diartikan bahwa tugas  seorang perempuan yang terpenting adalah 3M (macak, masak, lan manak). Hal ini menimbulkan premis, seakan perempuan begitu dibatasi ruang lingkupnya kususnya dalam hal pekerjaan. Mereka hidup dalam aturan, yang mereka sendiri tidak pernah ingin menanggungnya.
Yang menjadi sorotan dari bias gender adalah masalah kedudukan, perbedaan peran seorang laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran yang seakan selalu memarginalkan peran perempuan, tanpa pernah memperhitungkan potensi yang mereka miliki.
Fakta lapangan
Dalam keberlakuanya, memang tidak pernah ada sosialisasi secara massive  dalam pembagian peran tersebut. Bias gender tercipta mulai dari lingkungan keluarga, dan dengan mudahnya menjulur ke semua lapisan masyarakat  diberbagai usia. Apa yang masyarakat terapkan sekarang, dulunya adalah hasil didikan orangtua mereka. Tetapi, mengapa masyarakat seakan menerima nasib dengan pasrahnya, dan tidak mau keluar dari keberlakuan bias gender yang  jonjing (tidak seimbang) ini.
Menariknya, bias gender sudah menjadi  sebuah sistem atau tradisi yang sangat luar biasa hebatnya. Mampu membentuk sebuah susunan rantai yang berkesinambungan tanpa pernah, dan akan sulit terputus.  Terjadi keberlanjutan yang terus - menerus dalam menurunkan tradisi ini, tanpa pernah ada pengajaran intensif ataupun sosialisai. Sistem itu sudah tertanam begitu saja dalam mindset mereka sejak mereka kecil.
Kita  juga bisa menyoroti keberlakuan bias gender  yang terjadi di lingkungan kampus. Dimana pemegang peran-peran penting tetap dikuasai oleh laki-laki. Padahal, mahasiswa sebagai kaum kritis dan intelektual, harusnya  bisa menganalisa adanya  kesenjangan tersebut. Dibanyak UKM misalnya, pemegang jabatan ketua masih  didominasi oleh laki-laki. Bukanlah karena tidak ada pihak perempuan disana. Tetapi lebih kepada ketidakmampuan mahasiswa dalam menafsirkan arti gender yang sesungguhnya. 
Di sebuah instansi atau perusahaan juga tidak luput dengan persoalan yang serupa. Mereka menganggap laki-lakilah yang lebih memiliki daya guna  lebih tinggi di dibanding  perempuan. Hal ini menimbulkan marginalisasi terhadap kemampuan dan potensi  perempuan itu sendiri. Bahkan mampu membentuk pemikiran buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, itu tidak akan merubah nasib kita,  toh tempat kita nantinya tetap di dapur”.
Seolah persoalan bias gender  dianggap kesalahan yang dibenarkan. Dibenarkan oleh pemikiran kaku masyarakat kita, bahwa inilah yang benar. Kita boleh saja menghormati atau menganggap laki-laki suatu saat ada di atas perempuan. Tapi, hal itu tidak berlaku seterusnya, kadang kali harus ada kesejajaran dalam mengartikan bias gender yang sebenarnya.
 Penyebab
Banyak faktor yang menyebabkan adanya strata bias gender. Yang pertama adalah budaya , yang tanpa disadari  mampu mengacak-acak pembagian peran laki-laki dan perempuan . Budayalah yang membentuk pemikiran kita bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang bisa memasak,  yang selalu berada di rumah, jarang keluyuran.
Selain budaya, agama juga menjadi faktor pembeda yang cukup besar dalam hal mempengaruhi pemikiran masyarakat tentang bias gender. Tetapi, dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan agama sepenuhnya. Karena,  sebenarnya agama tidak bisa dijadikan objek sesalahan,  bukanlah agama yang secara langsung mengkonstruk adanya  bias gender. Yang justru keliru adalah pemikiran masyarakat  kita sendiri, bagaimana masyarakat mencerna, menafsirkan  ajaran gender dalam agama tanpa diolah terlebih dahulu.
Dalam islam, melalui kitab suci al-quran serta hadist nabi, banyak sekali dibahas  tentang bias gender. Bagaimana kedudukan seorang laki-laki, perempuan didalam keluarga dan masyarakat. Masyarakat menganggap dalam agama seorang perempuan tidak diperbolehkan menjadi seorang pemimpin.
Mengutip dalam sebuah ayat alquran yang artinya :”laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan”. Masyarakat menafsirkan ayat tersebut secara langsung tanpa mengkajinya terlebih dahulu. Padahal laki-laki disini juga dapat diganti dengan subjek perempuan yang memiliki sifat seperti laki-laki, yang adil, bijaksana, dan lain-lain.
Respon masyarakat
Respon masyarakat sangat baik, tetapi baik dalam artian mereka mampu mentradisikan bias gender secara kontinu, berlanjut. Mereka menganggap hal ini bukanlah masalah yang harus diperhitungkan. Mereka merasa enjoy- enjoy  saja hidup dengan keadaan yang seperti ini.Mungkin karena mereka belum tahu atau bagaimana?  Tapi mereka menganggap tradisi seperti ini dapat dibenarkan, karena berasal dari orangtua mereka.
Sebenarnya masih ada segelintir orang yang menyadari bias gender itu salah. Tapi mereka tidak mampu melawan budaya yang sudah mentradisi tersebut. Mereka tidak mampu mempengaruhi penerima bias gender yang massive , dan lebih memilih untuk diam sembari melihat sistem itu dijalankan dimasyarakat.
Tetapi ada hal yang mesti diketahui, meskipun mereka pasif terhadap masyarakat, bukan berarti mereka membiarkan keluarganya terkontaminasi atau terpengaruh tradisi tersebut. Mereka akan selalu menanamkan kesetaraan gender meski sebatas lingkungan keluarga.
Solusi konkret
Melihat fakta seperti itu, seakan membuat pikiran kita frustasi. Menganggap tidak ada, kalaupun ada pasti sangat sulit, untuk mencari solusi untuk mengurai permasalahan bias gender. Bias gender  di dalam masyarakat  seakan  sudah mendarah daging dan mentradisi. Tradisi yang terus – menerus diturunkan kepada anak turun kita.
Kita juga tidak boleh menyalahkan peran orangtua atau masyarakat  yang juga berperan langsung mensosialisasikan adanya bias gender. Karena, pada umumnya mereka belum sepenuhnya tahu ketidakadilan dalam bias gender, meskipun mereka sendiri mengalaminya. Mereka belum punya control social untuk menolak tradisi tersebut. Mereka masih bersifat naïf, sudah menyadari tapi belum ada tindakan nyata untuk merubahnya.
Sebagai agent of change, kita harus mensosialisasikan cita-cita mulia untuk merubah paradigma masyarakat tentang bias gender, bahwa ini adalah sebuah kekeliruan, kalian jangan mau seterusnya diperbudak oleh bias gender yang timpang ini.
Memang menurut agama, kususnya agama islam, meninggikan kedudukan laki – laki terkadang harus dilakukan. Tetapi, kalian harus menggarisbawahi,bahwa tidak untuk semua hal  kita meninggikan kedudukan laki-laki. Ada disaat bagaimana menempatkan laki – laki sejajar dengan perempuan.Kita harus lebih bijak dalam menafsirkan ayat-ayat al quran dan hadist nabi, tentang kedudukan gender.
Jika sudah muncul mindset yang seperti itu, kita hanya perlu mendorong mereka, kususnya kaum perempuan, untuk berjuang menerapkan persamaan dalam bias gender. Bahwa kita harus mampu mengulang sejarah emansipasi wanita yang pernah diudarakan oleh RA Kartini. Beliau tokoh yang mampu tampil dari desakan kaum laki – laki untuk menyuarakan hak – hak  perempuan. Kalau perlu, kita harus mampu menciptakan sebuah gerakan emansi wanita jilid dua.
Selain itu kita harus belajar dari sejarah Siti Aisyah, istri nabi. Beliau pernah menjadi panglima dalam perang. Bayangkan, padahal beliau seorang perempuan, tapi beliau mampu memimpim pasukan yang anggotanya semua laki-laki. Selain itu, beliau juga pernah menjadi seorang pengajar ketika nabi Muhammad masih hidup. Meskipun nabi Muhammad mengetahui hal tersebut, tapi beliau tidak pernah melarang Siti Aisyah untuk berhenti mengajar.
Hal itu cukup menggaransi bahwa bias gender itu tidak pernah dibenarkan, marjinalisasi terhadap peran perempuan juga harus dihapuskan. Kaum perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki. Tetapi tetap harus diingat, tuntutan hak tersebut harus dengan control social, dimana kaum perempuan harus memahami kapan saatnya hak laki-laki dan perempuan itu setara.





Kamis, 14 November 2013



Pada pokoknya struktur filsafat berkisar pada tiga cabang:

  • Teori Pengetahuan
  • Teori Hakikat
  • Teori Nilai

Tiga cabang ini melahirkan cabang-cabang baru yang merupakan anak-anak cabang dari ketiga cabang tadi.

1. TEORI PENGETAHUAN

Cabang filsafat yang membahas norma-norma atau teori tentang cara mendapatkan pengetahuan dan membicarakan pula tentang bagaimana cara mengatur pengetahuan itu sehingga menjadi pengetahuan yang benardan berarti. posisi terpenting dan terutama dari teori pengetahuan adalah membicarakan apa sebenarnya hakikat pengetahuan itu, cara berpikir dan hukum berpikir mana yang harus dipergunakan agar kita mendapat pemikiran yang kemungkinan benarnya paling besar.

Ada dua cabang yang akan membahasnya:
  • Epistemologi 
  • Logika

1.1. EPISTEMOLOGI

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti knowledge atau pengetahuan dan logy berarti teori. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan, atau filsafat ilmu. Terdapat empat persoalan pokok dalam bidang ini:

  • - Apa pengetahuan itu?
  • - Apa sumber-sumber pengetahuan itu?
  • - Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya?
  • - Apakah pengetahuan kita itu benar(valid)?


Definisi pengetahuan

Pada dasarnya pengetahuan mempunyai tiga kriteria:
  • Adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran.
  • persesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya.
  • adanya keyakinan tentang persesuaian itu.

Persoalan berikutnya yaitu tentang sumber pengetahuan manusia. Louis Q. Kattsof  mengatakan bahwa sumber pengetahuan ada lima macam, yaitu:

  1. Empiris yang melahirka aliran empirisme
  2. Rasio yang melahirkan aliran rasionalisme
  3. Fenomana yang melahirka aliran fenomenologi/fenomenalisme
  4. Intuisi yang melahirkan aliran intuisionisme
  5. Metode ilmiah yang menggabungkan antara Rasionalisme dan empirisme

1.1.1. Empirisme

Empirime mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman. John Locke  bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa).
Didalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana itu.

Ia memandang bahwa akal sebagai jenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan atom-atom yang menyusun objek-objek material. apa yangtidak dapat atau tidak perlu dilacak kembalisecara demikian itu bukanlah pengetahuan atausetidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal faktual.

1.1.2. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai jenis perangsang pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak didalam ide kita dan bukannya di dalam diri barang itu sendiri.

Descartes, bapak rasionalisme menyatakan ia yakin kebenaran-kebenaran semacam itu ada dan bahwa kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak diragukan. Dengan demikian akal budi dipahaminya sebagai jenis perantara khusus untuk mengenal kebenaran dan sebagai suatu teknik deduktif untuk menemukan kebenaran-kebenaran; artinya dengan melakukan penalaran.

1.1.3. Fenomenalisme

Menurut uraian Emmanuel Kant , barang sesuatu bagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman, dan disusun secara sistematisdengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mengetahui tentang barang sesuatu seperti keadaan sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak pada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).

Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

1.1.4. Intuisionisme

Menurut Henry Bergson, pengetahuan diskursif diperoleh melalui penggunaan simbol-simbol yang mencoba mengatakan kepada kita mengenai sesuatu. ini tergantung pada pemikiran dari suatu sudut pandangan atau kerangka acuan, dan pelukisan kejadian yang berhubungan dengan sudut pandangan atau kerangka acuan, dan pelukisan kejadian yang berhubungan dengan sudut pandangan serta kerangka acuan tersebut.

Dengan cara demikian kita memperoleh pengetahuan mengenai suatu segi atau bagian dari kejadian tadi, tetapi tidak mengenai kejadian itu seluruhnya. Hanya dengan menggunakan intuisi kita dapat memperoleh pengetahuan tentang kejadian itu suatu kejadian yang langsung, yang mutlak dan bukannya pengetahuan yang nisbi atau yang ada perantara.

1.1.5. Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
  1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
  2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
  3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
  4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
Setiap langkah diilustrasikan dengan contoh dari penemuan struktur DNA:
  1. DNA/karakterisasi
  2. DNA/hipotesis
  3. DNA/prediksi
  4. DNA/eksperimen
Contoh tersebut dilanjutkan pada tahap "Evaluasi dan pengulangan", yaitu DNA/pengulangan.

1.2 LOGIKA

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Dasar-dasar Logika 

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif:

Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Macam-macam Logika
  • Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.
  • Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

2. TEORI HAKIKAT

Hakikat artinya keadaan yang sebenarnya. Hakikat sebenarnya adalah keadaan sebenarnya dari sesuatu itu. Teori hakikat merupakan cabang filsafat yang membicarakan hakikat sesuatu.

Cabang teori hakikat:

  • Ontologi
  • Kosmologi
  • Theodecia
2.1. ONTOLOGI

Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat dari sesuatu yang ada. Pertanyaan utama dalam ontologi adalah "Apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang ada?". Ada empat macam aliran filsafat yang mencoba memberikan jawaban atas persoalan tersebut:

1. Materialisme
2. Idealisme
3. Dualisme
4. Agnoticisme

2.1.1. Materialisme

Materialisme mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa, dan dunia adalah material yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua.

Materialisme beranggapan bahwa hakikat sesuatu itu ada adalah sesuatu itu sendiri.

2.1.2. Idealisme

Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran -pikiran, akal atau jiwa dan bukan benda material dan kekuatan. Idealisme menekankan ide sebagai hal yang lebih dahulu dari pada materi.

Idealisme menekankan sesuatu yang ada diukur dari ide atau persepsi yang dari apa yang dirasakan oleh jiwa dan adanya kesesuaian dengan putusan-putusan lain yang telah diterima sebagai yang benar.

2.1.3. Dualisme

Dualisme adalah aliran filsafat yang mencoba memadukan dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Dualisme mengatakan bahwa materi maupun ide mempunyai hakikat yang sama.

Dualisme beranggapan adanya keselarasan antara ide/ruh dengan materi, namun dualisme mempunyai pertanyaan besar yaitu "bagaimana bisa terjadi keselarasan antara ide/ruh dengan materi?".

2.1.4. Agnoticisme

Agnoticisme beranggapan bahwa manusia tak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataan. Sebab menurut paham ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu tentang hakikat dari sesuatu yang ada, baik oleh indra maupun pikirannya.

Aliran ini mempunyai masalah yaitu tentang siapa sebenarnya yang bisa mengetahui hakikat sesuatu yang ada? aliran ini tidak menjelaskannya.


2.2. KOSMOLOGI

Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek.

Alam fisik atau jagat raya (cosmos) merupakan objek penyelidikan ilmu-ilmu alam, khususnya fisika. Ini berarti bahwa kosmologi adalah penyelidikan tentang jagat raya fisik, terdiri dari dua bagian:

  • Penyelidikan filsafat mengenai istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, seperti ruang dan waktu.
  • Pra-anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu tentang jagat raya.
Prinsip kosmologi tidaklah benar-benar sebuah prisip, melainkan asumsi yang digunakan untuk membatasi dari begitu banyaknya teori kosmologi yang mungkin. Prinsip ini diturunkan dari pengamatan alam semesta dalam skala besar, dan menyatakan bahwa pada skala yang besar, alam semesta adalah homogen dan isotropik.

2.3. ANTROPOLOGI

Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Menurut pandangan ini manusia adalah bagian dari alam yang dipandang sebagaikesatuan totalitas. Hakikat manusia adalh jasmani itu sendiri bukan ruhnya. Sebab ruh hanya ada jika tempat yang ditumpanginya masih utuh, sebaliknya ruh akan hilang apabila tempat yang ditumpanginya/jasmaninya telah hancur/mati.

2.4. THEODECIA

Cabang filsafat theodecia atau teologi membicarakan tentang dasar-dasar ketuhanan dan hubungan manusia dengan Tuhan berdasarkan logika atau pendapat akal manusia.
Theodecia tidak membicarakan Tuhan dari segi agama. Dalam theodecia terdapat sejumlah aliran:

2.4.1. Theisme

Paham yang mempercayai bahwa Tuhan merupakan pencipta alam ini. Tuhan adalah sebab yang ada dialam ini. Segala-gala bersandar pada sebab ini. Menurut paham ini alam beredar berdasarkan kehendak Tuhan.

2.4.2. Monotheisme

Monotheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.

2.4.3. Trinitheisme

Trinitheisme mengajarkan bahwa Tuhan itu ada tiga. Ketiga Tuhan mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda.
Paham ini merupakan lanjutan dari polytheisme yang menganggap banyak Tuhan. Kemudian dibatasi sampai tiga Tuhan saja.

2.4.4. Polytheisme

Polytheisme menganggap bahwa Tuhan atau Dewa itu banyak. Pada mulanya Tuhan-Tuhan atau Dewa-Dewa mempunyai kedudukan yang sama, akantetapi karena ada beberapa hal, lambat laun beberapanya ada yang memiliki kedudukanyang lebih tinggi.

2.4.5. Pantheisme

Paham yang menganggap bahwa alam ini adalah Tuhan. Semua yang ada dan keseluruhannya adalah Tuhan.Benda yang dapat dilihat oleh panca indera adalah bagian dari Tuhan.

2.4.6. Atheisme

Paham yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

2.4.7. Agnostisisme

Paham ini berada di tengah-tengah antara keberadaan Tuhan dan ketidak beradaan Tuhan. Menurut paham ini manusia tak akan sanggup mengetahui pengetahuan tentang Tuhan. Paham ini tidak menafikan Tuhan dan juga tidak mengatakan bahwa Tuhan itu ada.


3. TEORI NILAI

3.1. ETIKA

Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Jenis etika:

3.1.1. Etika Filosofis

Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat.[rujukan?]
Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat.[rujukan?] Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika:

Non-empiris

Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Praktis

Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.

3.1.2 Etika Teologis

Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.

Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis.Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi. Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.

Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.

3.1.3. Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis

Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.  Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:
  • Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
  • Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.
  • Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya. Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

3.2. ESTETIKA

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
  1. Studi mengenai fenomena estetis
  2. Studi mengenai fenomena persepsi
  3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis
Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.

Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.
keindahan seharusnya memenuhi banyak aspek. aspek jasmani dan aspak rohani.

Rabu, 13 November 2013

NABI Adam a.s gembira apabila menoleh kepalanya ke kanan kerana menyaksikan kalangan zuriatnya, iaitu umat manusia melakukan amalan baik dan akhirnya melayakkan mereka masuk syurga.
Namun apabila baginda menoleh ke kiri, di dapati ada juga kalangan umat manusia yang diseksa dalam neraka akibat balasan amalan-amalan jahat yang mereka lakukan, Ini menyebabkan Nabi Adam sedih dan kecewa.
Demikianlah di sebalik makna perlakuan yang ditunjukkan oleh lelaki bertubuh sasa dan tinggi yang pertama ditemui oleh Nabi Muhammad sejurus memasuki langit pertama dalam perjalanan Mikraj untuk menemui Allah di singgahsana Sidratul Muntaha.
Baginda begitu gembira dapat bertemu dan mengenali manusia pertama ciptaan Allah itu yang kemudiannya menjadi bapa kepada seluruh manusia di muka bumi ini.
Selepas memberi salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad kemudiannya dibawa naik ke langit kedua dan di situ baginda bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Diikuti langit ketiga, baginda bertemu Nabi Yusuf, langit kelima, Nabi Harun dan Musa di langit keenam.
Nabi Muhammad akan memberi salam dan mengakui kenabian kepada setiap nabi yang baginda temui.
Apabila tiba di langit ketujuh, Nabi Muhammad berpeluang menyaksikan Baitul Makmur, iaitu rumah ibadat, binaan sama seperti Kaabah bagi penghuni langit terutamanya para malaikat beribadah dan melakukan tawaf.
Sesetengah mengatakan terdapat hampir 70,000 malaikat yang melakukan tawaf di Baitul Makmur itu.
Ia dikatakan mempunyai kedudukan yang bertepatan dengan kedudukan Kaabah di bumi.
Di situ juga baginda melihat ada seorang lelaki yang wajahnya dikatakan hampir menyerupai Rasulullah sendiri.
Lalu baginda bertanya kepada Jibrail siapa lelaki berkenaan. Jibrail berkata: "Dialah nenek moyang kamu, Nabi Ibrahim."
Baginda sungguh gembira dengan pertemuan ini kerana dapat mengenali Nabi Ibrahim yang mempunyai sejarah kenabian sangat hebat terutama mampu mengalahkan Raja Namrud, berhijrah ke Palestin dan terpaksa meninggalkan isterinya Siti Hajar dan si anak Nabi Ismail. Dari situ ia menjadi titik permulaan pembukaan Kota Mekah dan mendirikan Kaabah seperti yang diperintahkan oleh Allah.
Sejurus pertemuan yang sungguh bermakna itu, baginda berjalan sehingga ke penghujung langit ketujuh.
Berubah bentuk
Di situ baginda melihat bagaimana malaikat Jibrail yang menyerupai manusia berubah kepada bentuk asalnya. Bentuk yang sama seperti yang baginda pernah temui buat pertama kali semasa berjalan ke pulang ke rumah dari Gua Hira'.
Kebenaran perkara ini tidak dapat disangkal. Ia benar-benar terjadi sebagaimana yang disebut dalam al-Quran, iaitu ayat 13 hingga 18 surah an-Najm yang bermaksud: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibrail itu dalam rupanya yang asli iaitu berdekatan dengan Sidratul Muntaha, yang juga berdekatan dengan syurga al Makwa, (Muhammad melihat Jibrail) ketika di Sidratul Muntaha dilitupi oleh sesuatu yang melitupinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-Nya yang paling besar.
Selain bagi mengesahkan pertemuan Nabi Muhammad dengan malaikat Jibrail pada rupanya yang asal, ayat ini juga sebagai mengesahkan mengenai pertemuan agung antara Nabi SAW dengan Allah Rabbul Jalil secara bersemuka.
Inilah keistimewaan Nabi Muhammad dapat bertemu dengan Allah dalam keadaan jaga dan bersemuka walaupun pertemuan tersebut tidak turut dihadiri oleh malaikat Jibrail.
Sebelum itu Jibrail telah meminta Nabi Muhammad mara ke hadapan iaitu memasuki Sidratul Muntaha, tempat sangat luar biasa yang tidak akan mampu terfikir oleh manusia biasa.
Apabila Nabi Muhammad turut mengajak malaikat Jibrail untuk bersama-sama dengan baginda, Jibrail berkata: "Kalau aku selangkah mara ke hadapan, maka aku akan hangus terbakar."
Lalu di hadapan Allah itu yang dikatakan jaraknya hanyalah 'dua busur panah' atau lebih dekat lagi dari itu, Nabi Muhammad diperintahkan sembahyang 50 waktu sehari semalam.
Iaitu ibadat menyembah-Nya untuk dilakukan oleh Nabi Muhammad dan seluruh umat baginda setiap hari.
Berbanding ibadat lain yang difardukan melalui turunnya wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibrail namun ibadat solat adalah perintah secara langsung daripada Allah.
Sebab itu di hari kiamat perkara pertama yang ditanyakan oleh Allah terhadap setiap individu umat Islam ialah mengenai perihal solatnya.
Segala amalan kebaikan dan kebajikan yang lain seolah-olah tidak bermakna jika seseorang itu mengabai dan meninggalkan solat secara sengaja.
Selepas pertemuan itu, Nabi Muhammad pun turun ke langit ke enam dan bertemu semula dengan Nabi Musa yang bertanyakan mengenai hasil pertemuan baginda dengan Allah.
"Apa yang Allah perintahkan untuk umat kamu wahai Muhammad," tanya Nabi Musa.
"Allah memerintahkan aku dan umatku supaya mendirikan solat 50 fardu waktu sehari semalam," jawab Nabi Muhammad.
Musa pun berkata lagi: "Kaum Israel pernah diperintahkan kurang daripada itu tetapi itupun mereka tidak mampu laksanakan. Kamu naiklah lagi dan minta Allah ringankan (kurang jumlah fardu) solat itu."
Sesetengah riwayat menceritakan baginda terpaksa berulang kali menemui Allah semula bagi tujuan untuk meringankan jumlah fardu solat itu. Sehinggalah akhirnya ditetapkan ibadat solat itu difardukan lima kali sehari tanpa boleh dikurangkan lagi.
Itupun Nabi Musa tetap menggesa Nabi Muhammad dikurangkan lagi lima waktu itu.
Lalu baginda pun berkata: "Aku rasa malu dengan tuhanku, namun aku reda dan aku menyerah diri."
Sepanjang mikraj itu juga Nabi Muhammad diperlihatkan dengan pelbagai kehidupan di alam akhirat, iaitu alam yang kekal bakal didiami oleh seluruh umat manusia.
Turut diperlihatkan ialah pelbagai gambaran bentuk pembalasan terhadap apa juga amalan yang dilakukan oleh manusia semasa hidup mereka di dunia.
Namun yang paling berkesan pada baginda yang diceritakan kepada para pengikutnya ialah mengenai gambaran syurga dan neraka.
Apa pun gambaran mengenai syurga dan neraka tersebut, namun yang jelas kedua-duanya wujud di akhirat sebagaimana yang disebut berkali-kali dalam al-Quran.
Namun itu pun masih tidak dapat dipercayai oleh sesetengah pihak.
Jadi apabila Nabi Muhammad telah melihatnya sendiri dengan mata kepala baginda, adakah kita masih tidak mempercayainya lagi?
SUSUNAN SITI AINIZA KAMSARI